Kamis, 29 Oktober 2015

Lagi bahas guru



Assalamu’alaikum, *engga jawab kafir hayo lu !
Di waktu luang ini gue engga ada kegiatan maklumlah jomblo, gue akan membahas tentang guru di sekolah gue yang cukup menarik, sebenarnya sih lebih ke aneh.
Yang pertama guru matematika namanya Pak jahwa.
Kebanyang kan image guru matematika itu killer, galak dll?? Tapi jangan salah guru gue kali ini beda, iya beliau sebut saja pak J biar cepet itu beda daripada guru yang lain, sampai waktu itu ada salah satu murid bilang ke Pak J “Pak kalau ada pemilihan guru favorite saya milih bapak dah” dan dengan spontan pak J menjawab “Ah jangan saya engga bisa tegas”.
Sekarang gue akan bahas dimana letak bedanya pak J daripada guru yang lain.
Pak J adalah guru yang apa adanya, beliau menjadi diri beliau sendiri tanpa sadar bahwa beliau adalah seorang guru, pasti pada bingung maksud dari kalimat yang gue ketik diatas.
Jadi gini emang ada guru yang memperlihatkan jati dirinya??engga ada men, kebanyakan meraka menutupinya dan mau dianggap wah atau dihormati oleh murid. Memang sih guru itu harus dihormati oleh murid tapi kan ya jangan membuat murid tertekan dengan kehadiran guru, yang ada malah kita di doakan yang engga-engga kan bahayaa men -__-.
Nah pak J beda dia termasuk guru yang mengakui dirinya malas, lucu bukan mana ada guru yang malas?? Baru ketemu di SMK ini.
Jadi kalau beliau menjelaskan dan ada kalimat yang panjang, Contoh penulisan 3000 000 ditulis Cuma 3 juta, kata beliau apa “saya males nulis panjang”.
Ada lagi “Kalian kalau mau menghitung di kalkulator biasa (1,02) dipangkatin 84x, Males”
Jadi pakai kalukulator sains tinggal menggunakan tanda (^) Topi “ sontak seluruh siswa tertawa. Padahal itu adalah tanda pangkat haha.
Ada lagi Pak J adalah guru yang engga mau ribet, karena pada waktu itu ada salah satu siswa bertanya “Pak, kok bapak engga pernah mengadakan ulangan??”, beliau jawab”Saya males ngeremed”. Sumpah itu jawaban yang kocak menurut gue.
Tapi di luar sifat yang apa adanya itu gue salut banget karena pak J adalah guru yang sangat bersemangat, ada adanya dan pandai mencari cara cepat penyelesaian matematika iya mungkin itu karena pribadi beliau yang engga mau ribet hahaaa.
Haduuuh udah banyak juga gue ngetiknya, padahal masih banyak hal kocak yang mau gue bahas tapi yasudahlah entar situ bosen lagi bacanya.
Btw pak jahwa keselek engga nih ya gue omongin di blog pribadi gue?? Maap pak engga izin dahulu, hihii piss
Kata terakhir adalah, mari kita doakan pak Jahwa semoga panjang umurnya sehat selalu, dan ilmunya selalu berguna untuk kita #amin ya robal alamin.
Sekian wasalamualaikum ...

Kamis, 22 Oktober 2015

Tugas guru itu apa??



Menjadi pelajar adalah kewajiban setiap manusia di era moderen ini, tapi terkadang menjadi pelajar itu tidak mudah, ada banyak sekali isi hati mereka yang tidak bisa diungkapkan, kalaupun diungkapkan yang ada mereka mendapat hukuman, karena pada dasarnya derajat murid itu dibawah guru, miris memang tapi apa daya seolah-olah itu sudah menjadi aturan paten bahwa siswa itu selalu salah.

Sebagai seorang pelajar kita butuh yang namanya ilmu dari seorang guru, tapi kita butuh ilmu bukan omelaan, hukuman atau bahkan yang parah adalah pukulan.

“Loh? Tapi kan itu cara guru mendidik muridnya? .”
iya paham, tapi mungkin caranya salah”.
Kita sebagai seorang anak murid kalau salah ya dinasihati, di arahkan yang benar bukan malah ditampar. Sebenarnya anda ingin membuat kami sadar akan kesalahan kami atau ingin menunjukan bahwa anda adalah sosok yang galak dan patut ditakuti?

“maaf guru, tapi dengan cara seperti itu kami bukan hormat, melaikan sebaliknya”
“Ah engga penting yang penting murid saya patuh sama apa yang saya perintahkan”. “iya patuh didepan anda, tapi apa anda tidak memikirkan bagaimana murid anda dibelakang anda?? anda tau betul bahwa ucapan itu adalah doa”.

Terkadang gue juga bingung, tugas guru sebenarnya apa sih? Membuat kita pandai apa membuat kita mendapatkan nilai bagus?.
Pernah gue mempunyai fikiran kalau tugas guru adalah membuat pandai muridnya, tapi kenapa setiap murid jika mendapati nilai jelek malah dipojokkan, diremed ulang, bahkan ada yang bilang “Kamu ini bodoh sekali, begini gampangnya tidak bisa”.

“Haduuuh... Harusnya guru intropeksi diri, kalau dalam satu kelas yang remed hanya beberapa mungkin si murid yang belum paham dan tugas seorang guru ya membimbing bukan malah memeri remed, “Lah kita aja belum paham, gimana to bu pak mengerjakannya?? mau diremed ulang sampai saya jadi artis korea juga engga bakal bisa karena masalahnya dipemahaman kita. Harusnya solusinya ya diajarkan pelan pelan, bukan dikasih soal ulang -_- .

“Dan yang kedua kalau satu kelas nilainya jelek semua ya itu berarti yang salah bukan muridnya, tapi gurunya, kalau menurut gue” *iya mungkin karena cara mengajarnya salah, sehingga ilmu yang disampaikan oleh guru tidak sampai ke otak murid.

Jadi bisa gue simpulkan bahwa tugas guru adalah membuat muridnya mendapatkan nilai bagus, karena dengan begitu, tandanya si murid pandai atau paham dalam pelajarannya.
Padahal itu nilai belum tentu hasil murni dari murid sendiri, bisa saja menyontek temannya. Tapi apa guru peduli??? Tidak, asalkan nilai bagus kelar sudah.

Terus kalau sudah begini siapa yang salah??? Muridkah? Gurukah ? atau tulisan gue ini?.
Tapi itu semua kembali ke diri kita masing-masing, kalau kita tau betul akan hak dan kewajiban kita entah itu sebagai guru/ sebagai murid mengkin hal tersebut tidak akan terjadi.

Dan guru yang gue bahas diatas juga tidak semua guru begitu, jadi ya tolong jangan tersinggung.
Karena saya menjadi pelajar hampir 12 tahun dan selama itu saya mengenali macam-macam guru, ada yang sangat saya segani dan hormati karena jasanya, dan ada juga guru yang saya hormati karena jabatannya.
Ketikan ini hanya opini semata, tidak ada maksud dan tujuan tertentu.
Terima kasih.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Makrab with kelas XII Akuntansi 1




Tepatnya malam minggu tanggal 8 Agustus 2015 kelas XII AK1 mengadakan acara bakar-bakar atau sekarang lebih familiar disebut makrab,tapi ironisnya yang hadir tidak seluruhnya melainkan hanya seperempat. Sedih memang tapi mau bagaimana lagi?Banyak alasan mereka kenapa tidak bisa hadir ada yang tidak ada dana, ada yang tidak diizinkan oleh orang tua, ada yang tidak ada yang jemput dan lain sebagainya .
Jadi bisa dikatakan acaranya kurang maksimal padahal pak ketua sebut saja mawar eh maksudnya soleh mengadakan acara ini guna untuk silaturahmi agar siswa lama dan siswa baru yg masuk ak1 bisa lebih akrab. Tapi yasudahlah yang penting acaranya lancar dan seru .
Disela-sela membakar ayam yang tak berdosa gue ikut berpatisipasi ya walaupun Cuma memberika perawatan pada ayam yang sudah mati dan dimutilasi dengan lulur khas yaitu kecap yang pentingkan ikut membantu engga cuma makan saja,betul tidak?? BETULL *abaikan.
Dan disela-sela mengolesi ayam mutilasi itu gue bilang”Kapan lagi gue bumbuin makanan buat kalian,kali aja gue berbakat” temen gue sebut saja dia jamur menjawab”jangan, engga pantes. Pantesnya jadi penulis”. Gue langsung diem jujur dalam hati berfikir.
Apa iya gue cocok atau bisa jadi penulis? Padahal karya gue cuma ketikan yang tidak bermanfaat, kalaupun gue bikin cerita bisa memang cuma gue masih kesulitan dalam pemberikan karakter dari masing-masing tokoh.Tapi yaa aminin saja lah siapa tau terkabul ^_^.
Ngomongin soal penulis gue suka ngetik dan bikin-bikin cerita awalnya dari Raditya Dika karyanya sungguh memotivasi gue, beliau adalah seorang penulis yang apa adanya bukan suatu hal yg dibuat-buat baginya tulisan itu harus nyata bukan hanya imajinasi semata. Dan tidak lupa dari buku motivasi yang isinya memuat hal yang patut untuk direnungkan. Dan juga dari buku-buku lainnya.

Ngomong-ngomong kenapa ceritanya jadi ngawur gini yak?? Maafkan inyong ya kelepasan hiihihi.
Akhirnya ayam matang dan kemudian disantap dengan lahap sampai habis hanya tersisa tulang ,perut kenyang hatipun senang itulah pribahasa gue “cakep...”
Engga terasa malam sudah menjemput kira-kira pukul 10 malam lewat dan kami para perempuan harus segera pulang. Tamat ^_^.

Jumat, 16 Oktober 2015

Dibalik nama “MONIKA”



Mayoritas guru yang mendengar nama “Monika” selalu melesetkan dengan kata “Monikah?” dan kemudian berbalik nanya ke gue “Kamu Monikah?Monikah sama siapa?” menurut gue itu adalah pertanyaan yang sulit daripada soal matematika.
gue mau jawab” Iya” Takut salah, jawab”Bukan” bermasalah dan jawab”Nanti” nambah masalah -_-. Terus inyong harus jawab apaaa???
Sebenarnya nama gue Monika Dwi Lestari itu udah bagus-bagus dikasih oleh orang tua, tapi pihak yang tidak bertanggung jawab mempermainkan nama tersebut,cieeeh bahasanya .
Tapi engga masalah sih toh kan Cuma bercanda.
Masih bahas soal nama, kalau dianalisis lebih dalam ternyata lama-kelamaan nama MONIKA hilang satu persatu, ini bukan mistis atau sulap, dan jangan berfikir juga kalau hilang dicolong orang, daripada banyak ketikan yukkks kita bahas .
Treeenenet neneeeet ...
Monika>> Jadi Monikah sama siapa? Monikah kapan? (Biasanya diucap oleh guru) *masih lengkap masih 6 huruf.
Monik>> Jarang orang manggil dengan sebutan ini (Orang rumahan, teman kampung dan keluarga) *tinggal 5 huruf
Moni>> awalnya sih kedengarannya imut bukan?? Tapi kalau terdapat pengulangan dalam panggilan “moni moni” nah terkesan lebih mirip kucing -_- (golongan orang yang memakai panggilan ini adalah makhluk abstrak dari planet lain atau bias disebut temen akrab disekolah) *tinggal 4 huruf
Mon>> kalau ini mayoritas orang memanggil dengan sebutan ini, Cuma terkadang mereka juga kelewatan suka khilaf, kadang “Ehmon kaya emon..”  “Mon...key monyet dong” “ mon..Temon “ Anjritt minta di bacok !! *tinggal 3 huruf
Dan yang terakhir Mo>> Udah kaya sapi gue, mana ada sapi kecil kaya gue?? Eh ada sapi kuntet.PUAS LO???!--_ - tapi untuk sekarang hanya ada dua orang yang memanggil gue dengan nama ini . * sisa 2 huruf.

Jadi siapa yang salah? Nama gue? Hidup gue? Emak gue? Bapak gue? Kakak gue? Kucing gue? Tetangga gue ?. FHAKK yang salah itu lo, iya elo yang baca tulisan gue ini .Apa engga sadar?? Apa pura-pura engga sadar .HAHAHA thank you udah baca ^_^.
 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template