Minggu, 16 Juni 2019

Allah tahu mana yang terbaik untuk hambanya.


Entah kenapa, akhir-akhir kemarin mood aku sangat bagus. Tahu kenapa? Iya karena sapaan yang ringan itu membuahkan hasil yang diluar ekspektasi.
Seoalah Allah telah menyiapkan rencana yang akhirnya aku dan dia kembali membuka tempat baru, yang tadinya aku hanya bisa mengaguminya namun sekarang aku sudah bisa sedikit lebih tahu tentangnya.
Sejujurnya aku sedikit tidak menyangka allah sebaik ini, karena dulu aku sangat ingin mengenalmu berbincang-bincang bersamamu dan seperti man jadda wa jada terwujud sudah.

Walau sekarang bahasan kita sudah mulai kehabisan stock, tak apa. Aku tidak serakah.
Dulu aku hanya mengharapkan kita berteman dan saling berbincang dan aku juga dulu hanya ingin mengenalmu lebih dalam. Dan itu sepertinya sudah terkabulkan. Bukannya aku bisa dianggap kurang bersyukur atau serakah jika mengharap lebih??
Tapi aku juga tidak muna, jika dia memang menyukaiku lebih akan sungguh sangat bahagia rasanya.
Masya allah, sangat betul memang jika kita melibatkan allah dalam segala hal maka allah akan mempermudah jalan kita juga.
Alhamdulillah …

“mon, bagaimana jika nanti. Ternyata kamu tahu sebuah fakta bahwa dia sama sekali tidak menyukaimu? Bahkankah dia tak pernah membalas statusmu yang sebenarnya bisa menjadi sebuah bahan obrolan, tapi ini tidak pernah .bukannya itu adalah bukti nyata bahwa dia tidak tertarik padamu mon :’) ?

:)

“kok tersenyum?
“yaa engga papa, toh itu hak dia untuk tertarik atau tidak terhadapku kan? Jika memang jodohnya bukan aku bisa apa? Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Gaperlu sedih atau menyesal karena itu adalah pilihan allah dan aku selalu percaya bahwa allah akan memberika yang terbaik untuk hambanya :) .

Sepahit-pahitnya kehidupan pasti ada rahasia besar yang telah allah siapkan, yang pasti rahasia itu adalah sebuah pilihan terbaik yang allah siapkan untuk hambanya. Jadi jangan sesekali berburuk sangka terhadap Allah.

Selasa, 11 Juni 2019

Aku pamit

Maaf, jika kamu tidak bahagia bersamaku
Maaf, jika obrolanku membuatmu bosan
Dan Maaf .Jika aku tidak sesuai ekspektasimu

Aku memang tak punya kelebihan yang bisa diunggulkan,
Aku hanya hadir dengan pribadi yang apa adanya
Aku tak menyalahkanmu lantaran sikapmu itu
Aku juga tak menyalahkan cinta yang sudah memilihmu
Aku juga tak menyalahkanku atas tindakanku..
Intinya...

Tidak ada yang salah
Hanya saja, rasa ini saja yang tidak tepat
Walau begitu,
Terima kasih :')

Terima kasih atas kebahagiaan yang sempat kau berikan kepadaku
Terima kasih atas waktumu yang telah dihabiskan hanya untuk membaca kalimat konyolku..
Dan Terima kasih untuk waktu yang singkat namun sangat berarti.
Sekarang,

Aku hanya bisa berdoa
Semoga kita kelak mendapatkan jodoh yang terbaik nantinya..
Dan semoga, aku bisa segera ikhlas melepas rasa ini..
Selamat tinggal,

Walau aku tak ingin dan tak sanggup
Namun bagaimanapun, hal yang tidak tepat memang harus diakhiri dengan cara yang tepat.
Aku pamit yah :')

Wassalamualaikum ...
Seseorang yang sempat aku anggap jodohku..

Minggu, 09 Juni 2019

JIKA AKU BOLEH JUJUR …


Hai kamu, bukannya aku tidak mau jujur akan perasaan ini. Hanya saja aku masih belum siap mendengar jawaban darimu.

Karena jawaban yang akan keluar hanya ada dua, dan itu sangat berpengaruh terhadap hubungan kita selanjutnya. Apakah kita kan melanjutkan untuk saling diam, atau malah sebaliknya :’)

Jawaban yang aku takutkan adalah, jika kamu hanya menganggapku sebatas teman tidak lebih dan kemudian menghilang tanpa pamit seoah tak terjadi apa-apa. Ya jujur aku belum siap untuk jawaban itu. Aku masih ingin kita saling mengenal satu sama lain, menjalani ini dengan santai namun atas dasar keseriusan. Jika memang aku bukan yang kau mau setidaknya kita bisa “lanjut berteman”

Kamu tak perlu ragu apakah rasaku ini tulus atau tidak. Aku benar-benar tulus menyukaimu, hanya saja aku masih belum siap mendengar jawaban darimu. Jujur aku sempat bingung ketika kamu melontarkan pertanyaan yang jelas jawabannya tertuju padamu. Aku mencoba untuk tidak menjawabnya dengan cepat. namun aku merasa seolah kamu sudah tahu dan sangat ingin mendorongku untuk langsung ke inti permasalahannya. 

Maaf, tapi aku belum seberani itu…
Kamu menanggapi sapaanku saja aku masih menganggap ini sebuah mimpi, ini diluar ekspektasiku. Kamu yang sebelumnya menghindariku dan acuh tak acuh akan keberadaanku kemudian menerimaku dengan sangat ramah. Bukankah ini sedikit janggal? Seolah ini adalah halusinasi yang aku buat seperti biasa. Walaupun ini nyata adanya.

Jujur aku sangat senang atas sikapmu, kamu dengan sangat ramah mau meresponku dengan candaan ringan berupa pesan yang terlintas di layar handphoneku. Kamu tidak tahu kan? Setiap aku mendapat notif darimu mukaku langsung memerah, tingkahku seolah benar-benar konyol aku berguling kesana dan kemari, ya aku sangat senang akan hal itu.

Tapi jujur, disisi lain aku juga takut. Takut jika nantinya kau cepat bosan bersamaku, takut jika rasa ini hanya sementara. Sebenarnya hal yang paling aku takutkan adalah jika rasa ini begitu mudah kau terima maka nantinya  “kebahagiaan yang aku rasakan saat ini juga akan berakhir semudah itu pula”.
Aku ingin membuatmu benar-benar tulus menyukaiku, bukan karena aku yang menyukaimu lantas kamu yang baik hati mau merimaku. Bukan tak ingin, aku hanya takut atas apa yang aku rasakan saat ini. Karena aku menyukaimu tak sebentar sehari dua hari namun termasuk lama, aku hanya tidak mau rasa ini berakhir dengan sebentar dan mudah.

Berharap? Jujur aku tidak berani ..
Walau aku sangat ingin, namun aku terus menyadarkan diriku sendiri bahwa “jangan berharap, karena patah hati ada karena sebuah harapan yang dibuat-buat”

Aku hanya bisa berdoa kepada sang pencipta, selalu meminta yang terbaik untuk kita berdua.
 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template