Suatu ketika sang hati menyukai seseorang sebut saja "adam" layaknya kisah adam dan hawa.
Hati sangat menyukainya, entah alasan apa yang bisa mendeskripsikan perasaannya itu. Yang dia tahu hanya melihatnya saja sudah membuatnya senang seolah ada energi yang otomatis masuk ke dalam dirinya.
Bagaikan handphone yang semula lowbet seolah terisi langsung full 100%, yaa kira-kira seperti itu.
Hati sangat menyukainya, entah alasan apa yang bisa mendeskripsikan perasaannya itu. Yang dia tahu hanya melihatnya saja sudah membuatnya senang seolah ada energi yang otomatis masuk ke dalam dirinya.
Bagaikan handphone yang semula lowbet seolah terisi langsung full 100%, yaa kira-kira seperti itu.
Namun suatu ketika si logika memberitahu sahabatnya itu "hei hati, kenapa kau masih menyukai adam? Dia bahkan tak melihatmu apalagi menyukaimu? Di dalam dirinya sudah terukuir nama seseorang bernama hawa. Seharusnya kau menyerah saja" ucapnya dengan tegas seperti biasa.
hati tak pernah peduli dengan ucapan sahabatnya itu, menurutnya selagi dia bisa menyukai adam kenapa tidak? Selagi hal itu membuatnya semangat kenapa tidak? *Fikirnya
Akhirnya tiba saat dimana sang hati melihat momen yang tak ingin dilihatnya,, ya sang adam. Biasanya ketika melihat adam dia sangat bersemangat namun hari itu sang hati hanya terduduk diam.
Si logika yang melihatnya kemudian mengampirinya "hei hati, kau kenapa?
Sang hati masih duduk terdiam.
Si logika mencoba mencari jawaban dengan reflek menengok kesana kemari berharap ada petunjuk yang memberinya jawaban atas apa yang menimpa sabahatnya itu, dan tiba pada satu titik, suatu pemandangan yang hampir sama dengan yang biasa logika katakan kepada sang hati.
Si logika mencoba mencari jawaban dengan reflek menengok kesana kemari berharap ada petunjuk yang memberinya jawaban atas apa yang menimpa sabahatnya itu, dan tiba pada satu titik, suatu pemandangan yang hampir sama dengan yang biasa logika katakan kepada sang hati.
Iya pemandangan itu ialah adam yang bersama dengan seorang namun bukan hawa, tapi lebih tepatnya tidak tahu itu hawa atau bukan.
Yang jelas mereka bersama menelusuri koridor jalan menuju parkiran kampus.
"oh itu masalahnya" ucap si logika dalam fikirannya.
Yang jelas mereka bersama menelusuri koridor jalan menuju parkiran kampus.
"oh itu masalahnya" ucap si logika dalam fikirannya.
"kan aku sudah bilang, adam itu tidak menyukaimu bahkan melihatmu saya tidak"
Hati yang mendengar ucapan sahabatnya itu terdiam dan kemudian menangis baru kali ini sang hati menangis biasanya dia tak pernah peduli akan ucapan sahabatnya itu.
Hati yang mendengar ucapan sahabatnya itu terdiam dan kemudian menangis baru kali ini sang hati menangis biasanya dia tak pernah peduli akan ucapan sahabatnya itu.
"ayolah bangun, masih ada adam adam lainnya yang melihatmu bahkan bisa sangat menyukaimu kau hanya perlu waktu saja hati.. Dan kejadian itu bukan untuk membuatmu sedih justru ini adalah bentuk untuk menyadarkanmu agar kau tak membuang waktu dan perasaanmu yang berharga demi orang yang bahkan tak melihatmu" ucap si logika mencoba membuat sahabatnya bangkit kembali.
Perasaan sang hati mulai membaik, benar kata sahabatnya memang tak seharusnya dia terdiam seperti ini.
