Rabu, 31 Juli 2019

Tolong

Memang bukan salahmu jika kau membisu
Karena memang sejak awal aku tak memberi tanya
Tapi, apa kau tak merasa jahat?
Aku sudah dengan berani mengutarakan rasa.
Namun kau diam tanpa kata
Ya, aku tahu, waktu itu aku tak memberi tanya
Tapi, jika kau menaruh hati juga, setidaknya beri jawaban walau hanya satu kata

Kecuali, jika memang kau tak menaruh rasa
Iya, bisa jadi itu alasannya.
Jika memang begitu, aku mengerti :")
Tapi jika boleh meminta
Alangkah baiknya kau ucapkan dengan jelas
Karena hati terlalu tulus
Dia akan terus berharap walau tanpa dasar
Akan terus yakin meski tak jelas
Dia harus dipatahkan supaya sadar
Tolong, patahkan saja sekalian jika memang kau tak ada rasa.

~MonikaDwiLestari

Rabu, 24 Juli 2019

Menunggu tanpa berharap

Untukmu aku akan menunggu
Tak perlu khawatir, aku pandai dalam hal itu
Namun, aku tak bisa berjanji untuk terus menunggu

Aku menunggu tanpa berharap
Karena berharap membutuhkan dasar
Dan aku tidak mempunyai dasar itu
Aku menunggu namun tidak menutup hati
Aku mempersilahkan siapapun yang mampu merubah rasaku padamu.

aku tak mau menyakiti hati
Hati terlalu baik padamu
Dia dengan suka rela memberikan tiket VIP padamu. tidak, justru VVIP
Namun kau tak menggunakannya
Bahkan, mungkin kau tak peduli

Maaf bukan berarti aku menyerah
Atau bahkan tidak yakin
Karena yakin lagi lagi harus memiliki dasar
Dan aku tidak punya dasar itu

~Monikadwilestari
(sebuah tulisan untukmu yang ragu akan rasaku)



Bicara soal "yakin"

Apa yakin saja cukup?
Jelas tidak.

Ibarat kita sedang berada di jembatan yang sudah reot, kita hanya yakin nantinya akan sampai dengan selamat tanpa terjatuh.
Namun, yakin saja tidak cukup. Ketika jembatan itu benar benar lepas jatuhlah kita.

Tapi ini akan berbeda, jika kita diberikan kepastian. Kepastian itu berupa "tali"
Setidaknya, jika jembatan itu benar benar jatuh, kita masih bisa berpegangan dengan tali itu.

Walaupun kita juga tahu. Tali yang kau ulurkan belum tentu akan kau pegang selamanya. Bisa saja kau benar benar melepaskannya. Dan akhirnya aku "terjatuh juga". :((

Rabu, 17 Juli 2019

Sebuah Pesan "JAngan berfikir untuk berkata selamat tinggal"

Lucu engga sih? Kamu berpesan seperti itu?
Ibarat kita mau naik kereta namun menunggunya di halte, sampai kapanpun tak akan tuh terwujud.

Mungkin ini sama, kamu menyuruhku untuk tetap stay namun kamu sendiri tidak memberikan jawaban yang pasti. Setidaknya jika kamu belum siap memberikan kepastian "suruh saja aku menunggu, menunggu sampai kamu siap. Tentunya kamu juga harus mengakui bahwa kamu menyukaiku juga" yang pasti aku tidak keberatan menunggu. Seolah "menunggu" sudah menjadi kebiasaanku.

Namun, ini seperti pakaian yang masih digantung. Sudah benar benar kering tapi tak diangkat dengan alasan "belom hujan"
Nanti, kuburu hujan kamu menyesal loh bajunya basah.

Dan lagi ini seperti kamu bermain sepak bola.
Bola itu sudah kamu yang pegang kendalinya, tinggal tendang sekali pasti goal, tapi kamu malah berputar putar di depan gawang. ngapain??
Jika tak mau membuat goal, yaa oper saja ke orang lain. Kenapa masih menguasai bola itu tanpa tujuan yang jelas?

Duh aku bukan marah loh, hanya bingung saja. Bingung atas sikapmu yang kadang jelas dan tidak jelas.

Mungkin sekarang aku yakin, tapi apa aku bisa jamin aku akan terus yakin? Makannya, beri aku jawaban yang jelas sayang. Aku pasti mengerti.

Asik sayang :)).

Jumat, 12 Juli 2019

Setelah hari itu

Sudah beberapa hari setelah pengakuan itu.
Kamu apa kabar?
Semoga kamu sehat selalu, terus tersenyum meski senyum itu bukan milikku.
Karena mungkin, aku hanya akan bisa menyapamu melalui do'a
Aku tak lagi berani mengusikmu dengan alasan "rindu"
Karena,Aku sudah berjanji kepadamu, akan mencoba pelan-pelan mengikhlaskanmu..

Waktu itu kamu bilang
"aku bukan orang baik yang kamu kira, mungkin allah berkehendak menutupi aibku"
Entah, apa ini sebuah penolakan seperti orang-orang yang sering katakan?
Atau kamu memang merasa belum pantas menerima pengakuanku?

Hei..
Mungkin benar, aku menyukaimu lantaran aku kagum melihat kedekatanmu dengan allah
Aku terbiasa melihatmu dari kejauahan
Walaupun aku tak tahu sifat aslimu
Aku tak pernah memandang itu

Yang aku tahu..
Aku menyukaimu karena allah
Bukannya ada yang pernah bilang
"cintailah seseorang yang bisa membuatmu lebih baik, seperti membuatmu lebih dekat dengan allah"

Dan, semenjak aku menyukaimu, aku banyak berubah
Aku merasa aku menjadi sedikit lebih baik daripada dulu..
Karena aku selalu memposisikan
"jodoh itu cerminan diri, jika aku ingin jodoh yang dekat dengan allah maka aku juga harus dekat dengan allah"

Itu adalah alasanku yakin, bahwa memang kamu yang aku mau. Masalah allah mau memberikan takdir itu atau tidak itu urusan belakangan.
Aku yakin, siapapun jodohku dan jodohmu kelak itu adalah pilihan yang terbaik untuk kita.

 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template