Kamis, 05 Desember 2019

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR


MAKALAH
SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR








DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

ADE ARISKA                      041702503125003
ANJI ANGGER BIMO S.W   041702503125051
DIAN TITIS AYU INSANI 041702503125044
GINTA HENIARTI 041702503125007
MONIKA DWI LESTARI 041702503125017




FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA
2019

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………........................…i
DAFTAR ISI …...……………………………………………………………….....................…ii
BAB I PENDAHULUAN…...………………………………………………….....................… 1
1.1 LATAR BELAKANG …...………………………………………………….........................1
1.2 RUMUSAN MASALAH…...…………………………………………….....................……2
1.3 TUJUAN MASALAH …...…………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN …...………………………………………………………………..…3
2.1 DEFINISI DAN MANFAAT SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR..............................................................................……………………………3
2.2 BAGIAN KOMPUTER DALAM SISTEM INFORMASI   MANUFAKTUR …...………4
A. KOMPUTER SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM FISIK …...…………...........................4
B. KOMPUTER SEBAGAI SISTEM INFORMASI ….....................…………………………6
2.3 MODEL SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR …...…………………………………12
2.4 PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR…...…………………………21
2.5 CONTOH KASUS …...……………………………………………………………..……22
BAB III PENUTUP …...…………………………………………………………..….....……29
3.1 KESIMPULAN …...…………………………………………………………..……...........29
3.2 SARAN …...…………………………………………………………….....................……30
DAFTAR PUSTAKA …...………………………………………………………..…………....31




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Fungsi pemasaran bertanggung jawab menentukan apa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan. Setelah penentuan ini dibuat, dan eksekutif perusahaan memutuskan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut yang mana menjadi tanggung jawab fungsi manufakur untuk memproduksi produk.

Manajemen manufaktur menggunakan komputer baik sebagai sistem konseptual maupun sebagai suatu elemen dalam sistem produksi fisik. Computer-aided design (CAD), computer aided manufacturing (CAM), dan robotik semuanya menggambarkan cara menggunakan teknologi computer dalam sistem fisik.

Evolusi komputer sebagai suatu sistem manufaktur konseptual paling mudah dilihat dalam area persediaan. Awalnya terdapat sistem yang menentukan titik pemesanan kembali. Kemudian datang konsep MRP – pertama ditetapkan sebagai material requirement planning dan kemungkinan sebagai manufacturing resource planning. Sistem MRP menawarkan suatu cara untuk mencapai manajemen persediaan. Cara yang lain adalah dengan pendekatan Just in Time (JIT). JIT unik diantara konsep-konsep prouksi modern karena tidak terlalu bergantung pada teknologi komputer.

Perhatian utama dalam makalah ini adalah bagaimana komputer digunakan sebagai suatu sistem konseptul, Namun, penggunaan itu dicampur dengan aplikasi dalam sistem fisik oleh suatu konsep yang disebut computer integrated manufacturing atau CIM.


RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dan manfaat sistem informasi manufaktur?
2. Apa saja bagian komputer dalam sistem informasi manufaktur?
3. Bagaimana model sistem informasi manufaktur?
4. Bagaimana manajemen menggunakan sistem informasi manufaktur?

TUJUAN MASALAH
Menjelaskan definisi dan manfaat sistem informasi manufaktur
Menjelaskan bagian komputer dalam sistem informasi manufaktur
Menjelaskan model sisitem informasi manufaktur
Menjelaskan cara manajemen menggunakan sistem informasi manufaktur


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI DAN MANFAAT SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR
Manufaktur, dalam arti yang paling luas, adalah proses merubah bahan baku menjadi produk jadi. Proses ini meliputi : perancangan produk, pemilihan material dan tahap‐tahap proses dimana produk tersebut dibuat.

Definisi manufaktur secara umum adalah suatu aktifitas yang kompleks yang melibatkan berbagai variasi sumberdaya dan aktifitas perancangan produk, pembelian, pemasaran, mesin dan perkakas, manufacturing, penjualan, perancangan proses, production control, pengiriman material, support service, dan customer service.

Sistem Informasi Manufaktur adalah suatu sistem berbasis komputer yang bekerja dalam hubungannya dengan sistem informasi fungsional lainnya untuk mendukung manajemen perusahaan dalam pemecahan masalah yang berhubungan dengan manufaktur produk perusahaan yang pada dasarnya tetap bertumpu pada input, proses dan output. Sistem ini digunakan untuk mendukung fungsi produksi yang meliputi seluruh kegiatan yang terkait dengan perencanaan dan pengendalian proses untuk memproduksi barang atau jasa. Ruang lingkup sistem informasi manufaktur meliputi Sistem perencanaan manufaktur, Rencana produksi, Rencana tenaga kerja, Rencana kebutuhan bahan baku dan Sistem pengendalian manufaktur.

Manfaat digunakannya sistem informasi manufaktur di dalam perusahaan adalah sebagai berikut :
Hasil produksi perusahaan lebih cepat dan tepat waktu karena sistem informasi manufaktur menggunakan komputer sebagai alat prosesnya.
Perusahaan lebih cepat memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya.
Arsip lebih terstruktur karena menggunakan sistem database
Sistem informasi manufaktur yang berupa fisik robotik, hasil produksi semakin cepat, tepat dan berkurangnya jumlah sisa bahan yang tidak terpakai.

2.2 BAGIAN KOMPUTER DALAM SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR
KOMPUTER SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM FISIK
Sistem informasi manufaktur menggunakan komputer baik secara konseptual maupun sebagai suatu elemen dalam sistem produksi fisik. Adapun yang termasuk dalam komputer sebagai bagian dari sistem fisik adalah :

Computer Aided Design (CAD)
CAD melibatkan penggunaan komputer untuk membantu rencana produk yang akan dimanufaktur. CAD pertama tama muncul dalam industri dirgantara sekitar tahun 1960-an dan kemudian diadopsi oleh pembuat mobil. CAD kemudian digunakan untuk merancang segala sesuatu dari struktur rumit seperti bangunan dan jembatan hingga bagian-bagian kecil.

Seorang insinyur dalam mendesign dapat menggunakan terminal CRT yang dilengkapi dengan light pen khusus yang digunakan untuk input. Perangkat lunak CAD memperbaiki gambar komputer, insinyur itu dapat menempatkan rencana itu pada berbagai pengujian untuk mendeteksi titik-titik lemah. Perangkat lunak CAD bahkan dapat membuat bagian-bagian tersebut bergerak seperti sedang digunakan. Ketika rancangan itu selesai, perangkat lunak CAD dapat menyiapkan spesifikasi rinci yang diperlukan untuk memproduksi produk itu. Spesifikasi ini disimpan dalam database rancangan.
Contoh : Pro/ENGINEER, AutoCAD, Solid Works, Catia, Unigraphics, ProgeCAD, dan ZWCAD.
Computer Aided Manufacturing (CAM)

Penerapan komputer dalam proses produksi dimana mesin yang dikendalikan komputer seperti bor dan mesin bubut menghasilkan produk sesuai dengan spesifikasi yang diperoleh dari database rancangan. Sebagian mesin produksi memiliki built-in microprocessors dan sebagian dikendalikan oleh komputer mini, satu komputer mini dapat mengendalikan beberapa mesin produksi sekaligus.
Otomatisasi perusahaan sekarang ini disertai teknologi CAM, karena produksi dapat berlangsung lebih cepat dan presisi yang lebih tinggi dari pada jika pekerja menusia mengendalikan. Presisi yang lebih tinggi memungkinkan lebih sedikit bagian yang catat dan terbuang.

Robotik (Industrial Robots/IR)
Penerapan komputer yang lain dalam pabrik adalah robotik industrial. Alat yang secara otomatis menjalankan tugas‐tugas tertentu dalam proses manufaktur. Robot industrial diperkenalkan dalam industri mobil sekitar tahun 1974 seperti CAD dan CAM, menyebar ke banyak industri lain. Aplikasi robotik yang populer adalah pengisian bahan baku ke dalam peralatan mesin yang diotomatisasi oleh CAM.
Robot memungkinkan perusahaan untuk memotong biaya dan mencapai tingkat kualitas yang tinggi, juga digunakan untuk melakukan pekerjaan yang mengandung risiko seperti melakukan pekerjaan di tempat yang bertemperatur tinggi.


KOMPUTER SEBAGAI SISTEM INFORMASI
Sistem Titik Pemesanan Kembali (Re-Order Point/ROP)
Setelah komputer pertama diterapkan dan berhasil dalam area akuntansi, komputer diberikan tugas mengendalikan persediaan. Pendekatan paling sederhana adalah Pendekatan reaktif yaitu menunggu hingga saldo suatu jenis barang mencapai tingkat tertentu dan kemudian memicu pesanan pembelian atau suatu proses produksi. Tingkat barang yang berfungsi sebagai pemicu disebut titik pemesanan barang dan sistem yang mendasarkan keputusan pembelian pada titik pemesanan kembali disebut sistem titik pemesanan kembali (re‐order point/ROP).
Gambar 1
                     
Gambar 1 merupakan diagram kegiatan untuk jenis persediaan dari waktu ke waktu. Bentuk gigi gergaji menggambarkan bagaimana persediaan berangsur-angsur berkurang kemudian diisi kembali sekaligus. Pengurangan terjadi melalui penggunaan dalam proses manufaktur, jika itu adalah bahan baku atau melalui kegiatan penjualan, jika itu adalah barang jadi. Menurut diagram tersebut setelah saldo turun menjadi 0, persediaan yang dipesan tiba dari pemasok, dan saldo kembali ke titik puncaknya. Siklus ini diulang berkali-kali.

Gambar 1 menggambarkan suatu situasi ideal-perusahaan yang dipesan tiba tepat saat terjadi kondisi kehabisan persediaan. Kehabisan persediaan (stockout) berarti tidak tersedia persediaan. Perusahaan mengantisipasi kehabisan persediaan dan melakukan pesanan pada pemasok ketika saldo mencapai titik pemesanan kembali. Jumlah waktu yang dibutuhkan pemasok untuk mengisi pesanan disebut lead time.

Manajer tidak suka sesuatu yang begitu ketat. Sebagai ukuran berjaga-jaga disisihkan sejumlah persediaan yang disebut safety stock. Perusahaan berharap tidak perlu menggunakan safety stock-nya, tetapi disediakan untuk berjaga-jaga seperti halnya ban serep.
Rumus menghitung ROP :

  R = LU+S

R = titik pemesanan kembali
L = lead time pemasok (dalam hari)
S = tingkat safety stok ( dalam unit )
U = tingkat pemakaian ( jumlah unit yang digunakan atau terjual setiap hari )

Contoh :
Pemasok memerlukan 14 hari untuk menyediakan bahan baku yang dipesan, dan perusahaan menggunakan 10 unit per hari, Perusahaan akan menggunakan 40 unit sementara menunggu pemasok memenuhi pesanan. Safety stock sebesar 16 Maka :

R = (14.10) + 16
       = 156
Maka titik pemesanan kembalinya adalah 156 unit.

Perusahaan biasanya melakukan pemesanan sebelum stok habis sama sekali, dengan demikian selalu ada kesempatan bagi perusahaan untuk melakukan kegiatannya sambil menunggu pengiriman dari pemasok yang belum datang, atau penggunaan stok akan dikurangi selama jangka lead time. Jika kekosongan stok terjadi, perusahaan tidak dapat menjalankan proses produksinya yang mengakibatkan perusahaan rugi.
Material Requirements Planning (MRP)
MRP dikembangkan pada tahun 1960‐an oleh Joseph Orlicky dari J.I case company. MRP adalah suatu strategi material proaktif yaitu mengidentifikasikan material, jumlah dan tanggal yang dibutuhkan. MRP mempunyai 4 komponen meliputi :
Gambar 2
Gambar 2 menggambarkan komponen-komponen utama sistem MRP. Angka-angka sistem dibawah ini berhubungan dengan angka-angka digambar.

Sistem Penjadwalan produksi menggunakan empat file data dalam menyiapkan master production schedule. Data input mencangkup file pesanan pelanggan, file Ramalan penjualan, file Persediaan Barang Jadi, dan file kapasitas Produksi. Master production schedule memproyeksikan produksi cukup jauh ke depan untuk mengakomodasi proses produksi yang merupakan kombinasi lead time pemasok dan waktu produksi terlama. Jadwal produksi dapat melihat hingga satu  tahun ke depan.

Sistem Material requirements planning menentukan beberapa banyak material yang diperlukan untuk menguraikan bill of material untuk tiap jenis barang yang dijadwalkan untuk produksi dengan mengalikan kuantitas bill of material dengan jumlah unit yang akan diproduksi, tujuan dari pengurangan ini untuk menentukan total kebutuhan material yang disebut kebutuhan bruto, yang akan diperlukan untuk menghasilakan produk yang dijadwalkan. Selanjutnya, file persediaan Bahan Baku digunakan untuk menentukan material mana yang telah dimiliki. Material yang dimiliki dikurangi dengan kebutuhan bruto untuk menentukan kebutuhan netto yaitu jumlah yang harus dibeli untuk memenuhi jadwal produksi.

Sistem material requirements planning bekerja berhubungan dengan system capacity requirements planning untuk memastikan bahwa produksi terjadwal pesanan terencana, yang mendaftarkan jumlah kebutuhan tiap material berdasarkan periode waktu. Output lain mencakup :
Perubahan pesanan terencana, yang mencerminkan pesanan yang dibatalkan, pesanan yang dipercepat dan kuantitas pesanan yang dimodifikasi.

Laporan perkecualian, yang menandai barang-barang yang memerlukan perhatian menajemen.
Laporan kinerja, yang menunjukkan seberapa baik sistem berkinerja dilihat dari ukuran stockout dan ukuran lain.
Laporan perencanaan, yang digunakan oleh manajemen manufaktur untuk perencanaan persediaan masa depan.
Sistem pelepasan pesanan (order release system) menggunakan jadwal pesanan terencana untuk input dan mencetak suatu laporan pelepasan pesanan (order release report). Satu salinan diserahkan kepada pembeli di departemen pembelian untuk digunakan dalam berunding dengan pemasok dan salinan yang lain dikirmkan ke manajemen lantai kerja (Shop floor) untuk digunakan dalam mengendalikan proses produksi.

MRP memungkinkan  perusahaan mengelola materialnya secara lebih baik. Perusahaan dapat menghindari kehabisan persediaan yang disebabkan oleh menunggu hingga menit terakhir dan menyadari bahwa persediaan yang dipesan tidak sengaja. Juga, dengan mengetahui kebutuhan material di masa depan, pembeli dapat merundingkan perjanjian pembelian dengan pemasok dan mendapatkan rabat.

Manfaat MRP bagi perusahaan :
Perusahaan dalam mengelola materialnya secara lebih efisien.
Perusahaan dapat menghindari kehabisan persediaan barang.
Perusahaan mengetahui kebutuhan material di masa depan.
Pembeli dapat merundingkan perjanjian pembeli dengan pemasok.

Manufakturing Resource Planning (MRP II)
MRP II mengintegrasikan semua proses di dalam manufaktur yang berhubungan dengan manajemen material. MRP II dikembangkan oleh Oliver Wight dan George Plossy.

Manfaat MRP II :
Penggunaan sumber daya yang lebih efisien; mengurangi inventori, lebih sedikit waktu, lebih sedikit kemacetan.
Perencanaan prioritas lebih baik; memulai produksi lebih cepat dan jadwal lebih fleksibel.
Meningkatkan pelayanan pelanggan; sesuai tanggal pengiriman, meningkatkan kualitas, kemungkinan harga lebih rendah/murah.
Meningkatkan moral dan semangat pekerja ; Para pegawai dapat memperoleh keyakinan dalam sistem, yang menghasilkan koordinasi dan komunikasi antar departemen yang lebih baik.
Informasi manajemen yang lebih baik ; Manajemen dapat menggunakan output sistem untuk memperoleh pandangan yang lebih baik mengenai sistem produksi fisik dan untuk mengukur kinerja sistem itu. Selain itu, eksekutif dan manajer perusahaan dari semua area fungsional dapat membuat perencanaan jangka panjang yang lebih baik.

Implementasikan MRP II dapat mencapai harapan yang maksimal pada tingkat keberhasilan tergantung pada penampilan dalam tiga area:

Komitmen manajemen puncak, dikemukakan ketika para eksekutif secara aktif ikut ambil bagian dalam steering committee, MRP II sebagai proyek yang paling diprioritaskan dalam perusahaan.
Proses Implementasi, berlangsung dengan sangat baik bila seluruh area yang ada di perusahaan mempunyai wakilnya dalam team proyek tersebut sehingga dapat dilakukan analisis kebutuhan yang lengkap bagi pemakai.
Pemilihan software dan hardware, dapat dilakukan dengan baik bila RFP (request for proposal) formal dikirimkan kepada semua pemasok software dan hardware yang diminati.

Pendekatan Just In Time (JIT)
Pada pertengahan tahun 1980‐an para manajer Amerika Serikat mempelajari manajemen Jepang dan teknik organisasi untuk mendapatkan kunci keberhasilan penjualan mereka. Salah satu teknik tersebut adalah just in time (JIT). JIT menjaga arus bahan ke pabrik agar sampai yang terendah dengan cara menjadwalnya agar saat tiba di workstation (stasiun kerja) ”just in time” (tepat waktu). JIT berusaha untuk meminimalkan biaya inventarisasi dengan cara memproduksi dalam jumlah yang lebih kecil. Lot size (ukuran tumpukan) yang ideal akan menjadi satu dalam sistem JIT. Satu unit akan bergerak dari workstation ke workstation berikutnya sampai produksinya selesai.

Pengaturan waktu menjadi kunci Penting saat Pasokan bahan mentah datang dari pemasok sebelum penjadwalan produksi mulai, tidak ada inventarisasi bahan mentah yang perlu dibicarakan. Jumlah bahan mentah yang sedikit diterima sekaligus, karena mungkin pemasok melakukan beberapa kali pengiriman selama satu hari. Kebalikannya dengan MRP yang menekankan perencanaan jangka panjang dan membutuhkan penggunaan komputer, maka JIT menekankan pengaturan waktu dan penggunaan tanda non komputer karena cukup menggunakan ”kanban” yang berarti kartu. Tujuan JIT adalah meminimalkan biaya persediaan dan penanganan (keamanan dan asuransi).

2.3 MODEL SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR
Sistem informasi manufaktur mencakup semua aplikasi komputer dalam area menufaktur sebagai sistem konseptual. Suatu model system tersebut digambarkan sebagai berikut :


Gambar 3
             
Sub sistem input terdiri dari:
Sistem informasi akuntansi
Proses sistem ini adalah mengumpulan data intern yang menjelaskan antara operasi manufaktur dan data di lingkungan yang berhubungan dengan transaksi perusahaan dengan pemasok.

Tugas pengumpulan data yang menjelaskan operasi produksi paling baik dilaksanakan dengan menggunakan terminal pengumpulan data. Pegawai bagian produksi memasukkan data ke dalam sistem melalui media yang dapat dibaca mesin dan keyboard. Setelah dibaca, data tersebut dimasukkan kedalam komputer pusat untuk memperbarui database.

Gambar 4

Gambar 4 menunjukkan 12 terminal pengumpulan data yang terletak diseluruh pabrik. Terminal 1 ada dalam area pengiriman. Jika bahan baku diterima dari pemasok, data penerimaan dimaksukkan ke dalam terminal. Semua bahan baku yang diterima kemudian melalui pemeriksaan kualitas, dan hasilnya dicatat dalam terminal 2. Saat barang yang disetujui memasuki gudang bahan baku, tindakan ini dicatat dalam terminal 3. Terimnal yang sama juga digunakan untuk mencatat pelepasan bahan baku ke proses produksi. Terminal 4 sampai 10 digunakan oleh pegawai produksi untuk mendandai permulaan dan penyelesaian tiap tahap dari proses produksi. Ketika barang sudah selesai, Terminal 11 digunakan untuk menunjukkan masuknya barang ke gudang barang jadi. Terminal 11 juga menandai pelepasan barang jadi ke departemen pengiriman. Ketika barang dikirimkan ke pelanggan, tindakan itu dicatat pada terminal 12.

Penggunaan terminal yang digambarkan dalam gambar tersebut disebut pelaporan kerja, karena menyediakan data yang menjelaskan pekerjaan produksi. Selain pelaporan mengenai arus material, pelaporan kerja juga melaporkan pemanfaatan mesin. Manajemen mengetahui mesin mana yang digunakan dan berapa lama.

Melalui pelaporan kerja dan kehadiran, sistem pengumpulan data mencatat setiap tindakan produksi yang paling penting. Manjemen manufaktur menggunakan database yang kaya ini untuk memantau seluruh kegiatan sistem produksi.

Sub sistem industrial engineering (IE)
Sistem Industrial Engineering adalah analisis sistem yang terlatih khusus mempelajari tentang operasi manufaktur dan membuat saran perbaikan. Industrial Engineering meliputi data khusus dari dalam perusahaan yang menetapkan waktu proses yang dibutuhkan untuk suatu produksi.
Bagian penting dari kerja IE melibatkan pengaturan standard produksi suatu unsur penting dalam menetapkan managent by exception di area manufaktur. IE menetapkan standard dengan mempelajari proses produksi untuk menentukan berapa lama waktu yang harus dihabiskan. Standar itu disimpan dalam database dan dibandingkan dengan kerja actual yang disediakan oleh SIA. Penyimpangan yang cukup besar dilaporkan ke manajemen.

Sub sistem intelijen manufaktur
Sub sistem intelijen manufaktur dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan terakhir tentang sumber-sumber material, mesin dan pekerja. Yang termasuk dalam sub sistem intelejen manufaktur yaitu:

Informasi pekerja, seperti sistem kontrak, borongan atau tak berjangka harus diperhatikan oleh manajemen manufaktur yang mengorganisasikan para pekerja perusahaan.

Sistem formal, manajemen manufaktur membutuhkan informasi pekerja melalui permintaan pekerja yang dikirimkan ke bagian sumber daya manusia, dan data dari elemen-elemen lingkungan yang terhubung dengan pihak pelamar. Setelah para pelamar diseleksi, data pelamar dikirmkan ke manajemen manufaktur. Jika seorang pelamar dipekerjakan, informasi pekerja dimasukkan ke dalam database sistem informasi sumber daya manusia (HRIS) dan juga kedalam file gaji.

Sistem informal, Arus informasi antara pekerja dan manajemen manufaktur sebagian besar bersifat informal. Arus ini berupa kontrak harian antara pekerja dan penyedia mereka. Terdapat jasa hubungan komunikasi informal antara para pejabat serikat, departemen hubungan industrial, dan manajemen tingkat atas. Berbagai kelompok ini bekerja sama menyelesaikan masalah perburuhan.
Informasi Pemasok, Pemilihan pemasok terbaik merupakan elemen kunci dalam mencapai efesiensi dan kualitas produksi. Material yang dipesan harus tiba sesuai jadwal dan dengan tingkat kualitas yang diharapkan.

Pemasok dipilih melalui proses seleksi, dan setelah satu pemasok dipilih, pembeli terus memantau kemampuan pemasok. Dan dipelihara di dalam database yang menjelaskan setiap pemasok.
Input pemasok tersedia ketika wiraniaga pemasok menelpon pembeli dan memberikan manual dan katalog. Pembeli perusahaan juga menghubungi pemasok melalui telepon untuk menanyakan pertanyaan tertentu. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerapkan ISDN, videotext atau perangkat lunak workgroup computering yang menyatukan mulitimedia. Dan tiap kali suatu perusahaan mendapatkan material dari pemasok, sistem informasi akuntansi menciptakan suatu catatan dari transaksi tersebut.

Input pengendalian kualitas terdiri dari data yang disediakan oleh pemeriksa kualitas saat material melewati proses produksi.
Input pelayanan pelanggan merupakan tanggung jawab fungsi pemasaran. Unit pelayanan pelanggan menyediakan informasi sebagai hasil dari perbaikan dan penggantian, dan juga survey atas kepuasan pelanggan.

Catatan pemasok lengkap menyediakan suatu analisis mengenai organisasi pemasok maupun materialnya dari penerimaan hingga pemakaian produktif akhir.

Sub sistem output
Subsistem output adalah informasi yang di peroleh dari hasil pengolahan data dari bagian poduksi, persediaan dan kualitas. Terdapat empat subsistem output yang mengukur tiap produksi antara lain :

Sub sistem produksi
Sub sistem produksi adalah semua hal yang berkaitan dengan proses di setiap bagian kerja atau departemen yang mengukur produksi.
Subsistem produksi menyediakan gambaran bagi manajemen tidak hanya rencana-rencana produksi tetapi juga status saat ini. Manajer yang ingin menentukan status dari suatu pekerjaan dapat bertanya (query) pada database untuk memperlajari suatu pekerjaan akan bermanfaat dalam memecahkan berbagai masalah produksi.

Sub sistem persediaan
Sub sistem persediaan memberikan data jumlah stok, biaya holding, safety stock dan hal lain berdasarkan hasil pengolahan data dari input. Tingkat persediaan sangat penting karena menggambarkan investasi yang besar.
Penentuan kualitas pemesanan terbaik dipengaruhi oleh biaya-biaya pemeliharaan dan biaya pembelian.

Biaya Pemeliharaan
Biaya pemeliharaan dan biaya penyimpanan(carrying cost), biasanya dinyatakan sebagai persentase biaya tahunan dari barang, dan biaya tersebut menckup fakor-faktor seperti kerusakan, pencurian, keusangan, pajak dan asuransi. Suatu karakteristik penting dari biaya pemeliharaan adalah kenyataan bahwa biaya itu berbanding lurus dengan tingkat persediaan. Semakin tinggi tingkat persediaan, semakin tinggi biayanya.

Contoh : Perusahaan farmasi yang menyimpan produk obat dalam ruang tertutup dengan keamanan ketat akan menanggung biaya yang sangat tinggi. Sebaliknya suatu perusahaan pemasok ladang minyak menangung biaya sangat rendah karena menyimpan pipa besi di lapangan terbuka.

Biaya Pembelian
Biaya pembelian adalah biaya yang meningkat mencakup biaya-biaya yang terjadi saat material dipesan (waktu pembeli, biaya telepon, biaya sekretaris, biaya formulir pesanan pembelian dan sebagainya).
Kuantitas Pemesanan Ekonomis (Ekonomic Order Quantity), EOQ menyeimbangkan biaya pemeliharaan dan pembelian serta mengifentifikasi biaya kombinasi terendah. EOQ digunakan untuk memesan pengisian kembali persediaan dari pemasok.
Kuantitas Manufaktur Ekonomis (Economic manufacturing quantity), EMQ juga disebut ukuran manufaktur ekonomi. EMQ menyeimbangkan biaya penyimpan persediaan dengan ketidakefisenan produksi. EMQ digunakan untuk memesan pengisian kembali persediaan dari fungsi manufaktur perusahaan sendiri.

Melalui penggunaan praktek manajemen persediaan inilah yang menyatukan konsep seperti EOQ dan EMQ, subsistem persediaan dapat memampukan perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam bentuk pengurangan biaya persediaan. Fungsi Sub sistem persediaan adalah mengukur volume aktifitas produksi dan persediaan yang diubah dari bahan mentah menjadi bahan jadi.

Sub sistem kualitas
Sub sistem kualitas adalah semua hal yang berkaitan dengan kualitas, biaya waktu, performa kerja, atau pemilihan supllier. Fungsi sistem ini adalah bisa mengukur kualitas material saat diubah. Kualitas bukanlah memenuhi sejumlah kriteria yang ditetapkan perusahaan;sebaliknya kualitas adalah memenuhi kriteria yang ditetapkan pelanggan.

Pendekatan menuju manajemen kualitas starategis adalah Total Quality Management (TQM), Keyakinan dasar yang melandasi TQM adalah :
Kualitas didefenisikan oleh pelanggan
Kualitas dicapai oleh manajemen
Kualitas adalah tanggung jawab seluruh perusahaan

TQM menyediakan kerangka kerja bagi semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan kualitas. Dalam kerangka ini subsistem kualitas menyediakan bagi manajer informasi yang mengungkapkan seberapa jauh produk perusaaan mencapi sasaran kualitas. Data yang digunkana untuk memproduksi informasi ini berasal dari subsistem input dan subsistem output.

Sub sistem biaya
 Subsistem biaya dapat berisi program-program yang menyediakan laporan periodik maupun khusus. Laporan periodik dapat dicetak dan dibagikan atau dapat disimpan di dalam bentuk yang telah disusun sebelumnya dalam database untuk diambil.

Unsur-unsur dasar pengendalian biaya, terdapat dua unsur kunci. (1) standard kinerja yang baik dan (2) sistem untuk melaporkan rincian kegiatan saat terjadinya. Jika pengawai manufaktur (operator mesin, pemeriksa, mekanik pemeliharaan, dan lain-lain) melaksanakan tugas mereka, mereka dapat menggunakan terminal pengumpulan data untuk mencatat kegiatan sehingga manajemen manufaktur mengetahui apa yang terjadi di pabrik.


2.4 PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR
Sistem informasi manufaktur digunakan baik dalam penciptaan maupun dalam operasi sistem produksi fisik. Informasi itu digunakan oleh eksekutif perusahaan, manajer di area manufaktur, dan juga ,manajer diarea lain. Pengunaa ini ditunjukkan dalam gambar 4.
Gambar 4


Para eksekutif, termasuk wakil presiden direktur manufaktur, menerima informasi dari semua subsistem output. Supermarket pabrik juga menggunakan ikhtisar output yang menjelaskan seluruh operasi.

Manajer dalam pemasaran dan keuangan juga menggunakan output itu, pemasar tertarik pada aspek produksi seperti biaya, kualitas dan penyediaan karena faktor-faktor tersebut memperngaruhi penjulan produk. Manajemen keuangan memiliki perhatian khusus pada subsistem persediaan, karena digunakan dalam menentukan investasi persediaan, dan pada subsistem produksi, karena digunakan untuk membuat keputusan penting mengenai kontruksi atau perluasan pabrik.
Titik penting yang perlu diingat adalah kenyataan bahwa sistem informasi manufaktur menyediakan informasi bagi manajer di seluruh perusahaan.


2.5 CONTOH KASUS
KOSTUMISASI RANCANGAN SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR
PADA IMPLEMENTASI POWERMAX
(STUDI KASUS PT. ALSTOM POWER ENERGY SYSTEM INDONESIA)

PT. ALSTOM Power Energy System Indonesia atau lebih dikenal dengan PT. ALSTOM Power ESI yang merupakan perusahaan multinational yang bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik khususnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas & uap (PLTGU). Globalisasi dunia manufaktur menuntut PT. ALSTOM Power ESI dapat mengelola informasi dengan baik, sehingga kebutuhan informasi masing – masing pihak yang berkepentingan dapat terpenuhi dengan cepat dan tepat.

Menurut Budisusetija selaku President Director dari PT. ALSTOM Power ESI, PowerMax akan menjadi sistem ERP baru PT. ALSTOM Power ESI, menggantikan sistem syteline yang sudah ada. PowerMax sangat diharapkan bisa menjadi sistem informasi yang lebih baik bagi perusahaan. Dengan menyajikan proses implementasi yang tepat, maka sistem ini akan dapat menyediakan informasi yang lebih baik dan dapat membuat sistem melakukan aktivitas lebih mudah, aman dan efisien (Budisusetija, 2009). Untuk itu perlu pengembangan rancangan sistem informasi manufaktur di PT. ALSTOM Power ESI yang dapat diadopsi oleh sistem PowerMax.

Permasalahan utama dalam sistem yang selama ini digunakan adalah :
Proses dalam sistem informasi manufaktur yang lama masih berjalan secara terpisah dengan menggunakan software yang berbeda, seperti contoh pada pengolahan data capacity planning dikerjakan dengan menggunakan software Ms. Excel lalu setelah itu data akan digunakan untuk input pada proses production scheduling yang menggunakan software syteline, hal ini mengakibatkan aliran data dari satu proses ke proses lainnya tidak berjalan dengan efisien dan memperbesar terjadinya human error ketika pemindahan data dari satu proses ke proses lainnya.
Terdapat beberapa proses yang masih dilakukan secara manual, seperti contohnya pada proses material requirement planning (MRP) dimana pengumpulan data bill of material dilakukan dengan membuka data bill of material satu per satu lalu melakukan copy – paste kedalam satu basis data.

Tabel 1 Proses yang akan dikembangkan dalam sistem baru

Pada sistem baru, semua proses aliran informasi manufaktur akan diintegrasikan dalam satu sistem yaitu PowerMax yang terbagi dalam 2 modul utama yaitu Production Planning dan Production Execution.
Analisis kostumisasi rancangan sistem informasi manufaktur ini menggunakan analisis terstruktur dimulai dari pembuatan data flow diagram (DFD) lalu entity relationship diagram (ERD) dan sketsa user interface.

Kostumisasi rancangan sistem, terdapat tiga yaitu :
Rancangan basis data
Rancangan basis data digambarkan dengan DFD (Data Flow Diagram) yang akan menampilkan basis data yang lengkap dengan komponen–komponen yang menunjukkan file yang dipergunakan, sumber dan tujuan data, serta aliran data pada setiap proses.
Rancangan proses
Rancangan proses digambarkan dengan ERD (Entity Relationship Diagram) yang akan menampilkan kegiatan sistem lengkap dengan kumpulan basis data yang menjadi satu dalam suatu kesatuan proses.
Rancangan user interface
Langkah selanjutnya setelah rancangan proses adalah sketsa rancangan user interface yang akan digunakan oleh programmer untuk membuat desain user interface.

User interface untuk proses MRP terdiri dari form demand data, form project material requirement, form production master data, form run MRP dan form material master.
User interface untuk proses capacity planning terdiri dari form capacity analysis dan form planned order.
User interface untuk proses production scheduling terdiri dari form production order, material availability check, dan form reschedule production plan.


Form Demand Data

Form Project Material Requirement

Form Production Master Data

Form Run MRP

Form Capacity Analysis

Form Material Master

Form Planned Order

Form Production Order

Form Material Availability Check



BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Manajer manufaktur telah menetapkan komputer dalam dua cara dasar ; sebagai sistem fisik dan sebagai sistem informasi. CAD, CAM dan robotik digunakan dalam system produksi fisik untuk melaksanakan tugas secara lebih baik dan mengurangi biaya.

Aplikasi komputer sebagai suatu sistem konseptual dalam area manufaktur dimulai dengan persediaan. Sistem pertama menyatukan pendekatan titik pemesanan kembali, tetapi rancangan ini digantikan oleh konsep MRP yang lebih proaktif. Konsep MRP kemudian diperluas untuk berintegritas dengan sistem lain di  seluruh perusahaan dan diubah menjadi MRP II.

Selama tahun 1980an, perusahaan-perusahaan menerima strategi produk baru dengan menggunakan pendekatan Just in Time (JIT). JIT merupakan konsep yang revoluisioner dalam dua hal. Pertama JIT berlawanan dengan filosofi produksi masal yang telah lama dihargai. Kedua, JIT menekankan kemapuan komunikasi teknologi komputer dengan menggunakan sinyal-sinyal fisik.

Sistem informasi manufaktur terdiri dari subsistem input, database dan subsistem output. Sistem informasi akuntansi mengumpulkan data intern, sering dengan menggunakan terminal pengumpulan data, dan mengumpulkan data lingkungan sebagai hasil dari transaksi dengan pemasok. Subsistem industri engineering menggunakan informasi intern yang berhubungan dengan sistem produksi fisik. Subsistem manufaktur mengumpulkan data lingkungan yang menjelaskan serikat pekerja dan pemasok.

Manajemen menggunakan subsistem produksi untuk membangun fasilitas produksi baru dan mengoprasikan fasilitas yang ada. Subsistem persediaan menggunakan rumus untuk memprogram dua keputusan penting mengenai saat memesan dan jumlahnya. Subsistem kualitas menggunakan kombinasi standar kualitas, informasi umpan balik dan pemeriksaan pengendalain kualitas untuk mencapai kulalitas tinggi yang diperlukan untuk menghadapi persaingan menyediakan informasi yang memungkinkan manajemen menjaga biaya produksi tetap rendah.
Sistem informasi manufaktur merupakan suatu penerapan teknologi informasi dalam produksi yang bagus, tetapi itu hanya satu dimensi dari penggunaan komputer. CIM adalah suatu filosofi manajemen yang diarahkan pada pengintregritasan semua sistem informasi berbasis computer yang terpisah ditambah otomatisasi pabrik.

3.2 SARAN
Karena keterbatasan penulis ,baik dari segi pemahaman keilmuwan maupun wawasan pengetahuan penulis melihat masih banyak kelemahan dan kekurangan baik yang terdapat dalam diri penulis, objek permasalahan maupun pembaca secara umum, maka disini kami mengungkapkan saran saran sebagai berikut:
Kurangnya ilmu pengetahuan yang terdapat dalam diri penulis mengakibatkan kurang baiknya penyusunan makalah ini maka Penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca agar Penulis mampu memperbaiki segala kekurangan dalam penulisan makalah berikutnya.
Penulis mengharapkan setelah membaca makalah ini, sebaiknya pembaca mampu mengamalkan pemikiran - pemikiran yang dikembangkan oleh penulis selama tidak menyimpang dari peraturan yang ada.


DAFTAR PUSTAKA

Raymond McLeoad, J. d. (2004). Sistem Informasi Manajemen. jakarta: PT Indeks.
http://www.akuntansilengkap.com/manajemen/model-dan-contoh-sistem-informasi-manufaktur/
KOSTUMISASI RANCANGAN SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR PADA IMPLEMENTASI POWERMAX  (STUDI KASUS PT. ALSTOM POWE R ENERGY SYSTEM INDONESIA) Pratama Wicaksana Budiarta1, Nur Iriawan1,2 1Program Studi Magister Manajemen Teknologi – Insitut Teknologi Sepuluh Nopember 2Jurusan Statistik Industri – Fakultas MIPA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Email : pratama.w.budiarta@power.alsom.com

 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template