Kamis, 21 Februari 2019

Tulisan ini tentangmu.


Kamu mungkin tahu bahwa semalam aku mendadak rindu akan senyummu, dan isengnya aku meminta fotomu di grup perkumpulan sahabatku, seolah aku ingin pamer bahwa aku ini sedang rindu. Memalukan namun terasa manis :’)

Padahal jika ingin mengambil fotomu aku bisa dengan mudah stalking instagrammu, dan pada akhirnya aku benar-benar membuka intagrammu, ternyata kamu sudah banyak berubah ya :”) rambut kamu kini sudah gondrong, walalau jujur aku lebih suka rambut rapimu. Tapi ternyata ada yang tidak berubah darimu ya senyumanmu, senyum manismu J meski senyum itu bukanlah milikku, apa aku harus meminta ijin jika ingin memandang senyummu itu?

Hmm, rasanya aku tak sanggup. Jangankan meminta ijin untuk itu, aku yang sangat ingin menyapamu saja sampai sekarang tak sanggup melakukannya :”)

Apa Kamu ingat? Saat itu sebenarnya adalah moment yang sangat pas untuk kita saling menyapa, sebenarnya aku sangat berharap kau menyapaku walau hanya  sekedar bertanya “lo bawa kamus engga?” pasti aku akan sangat senang.

Tapi ternyata kamu tak sedikitpun menoleh kearahku, aku sedikit kecewa. Sampai akhirnya di dalam lift hanya tinggal kita berdua dan aku hanya melihatmu dengan kegelisahan seolah ingin keluar dalam keadaan yang awkard itu.

Sampai pada akhirnya pintu lift benar-benar terbuka tanpa ragu kaupun melangkahan kaki meninggalkanku sendiri didalam. Seolah kau ingin buru-buru mengakhiri pertemuan kita. miris

Aku yang sudah kecewa hanya terdiam dan langsung menuju loker perpusatakaan, sekilas aku mendengar suaramu yang sedang berbincang dengan pegawai perpustakaan dengan keperluan ingin meminjam kamus bahasa inggris.

Setelah aku meletakkan tas di loker, aku kemudian berbalik badan dan ingin mengambil nomer untuk tukar dengan kunci loker rasanya ketika itu kau sedang menoleh kearahku, hmm tidak apa aku yang hanya merasa kau menoleh? namun aku sudah tak peduli, aku juga tak menoleh sedikitpun dan kemudian berjalan melewatimu. Ternyata kali ini egoku menang melawan hati.

Tapi itu hanya sementara, Pikiranku kemudian kacau, hujan yang turun ketika itu seolah sangat paham akan perasaanku, seolah dia ingin menghiburku memberitahu bahwa “jika kau ingin menangis menangislah karena derasnya hujan ini akan mampu menutupi suara tangismu”bisiknya. Namun aku memilih pulang meningkalkan perpusatakaan yang dingin itu,sedingin sikapnya terhadapku.

Sebenarnya Aku sangat penasaran hal apa yang membuatmu tak ingin menyapaku, apa kau lupa namaku? Atau kau memang tak ingin berteman denganku?Padahal kita berkenalan sudah dengan cara yang benar, ketika itu kita saling menyebutkan nama dan saling berjabat tangan.

Lantas, apa yang membuatku menjauhiku wahai pujaanku ?

 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template