Kamu mungkin tahu bahwa semalam aku mendadak rindu akan senyummu,
dan isengnya aku meminta fotomu di grup perkumpulan sahabatku, seolah aku ingin
pamer bahwa aku ini sedang rindu. Memalukan namun terasa manis :’)
Padahal jika ingin mengambil fotomu aku bisa dengan mudah
stalking instagrammu, dan pada akhirnya aku benar-benar membuka intagrammu,
ternyata kamu sudah banyak berubah ya :”) rambut kamu kini sudah gondrong,
walalau jujur aku lebih suka rambut rapimu. Tapi ternyata ada yang tidak
berubah darimu ya senyumanmu, senyum manismu J
meski senyum itu bukanlah milikku, apa aku harus meminta ijin jika ingin
memandang senyummu itu?
Hmm, rasanya aku tak sanggup. Jangankan meminta ijin untuk
itu, aku yang sangat ingin menyapamu saja sampai sekarang tak sanggup
melakukannya :”)
Apa Kamu ingat? Saat itu sebenarnya adalah moment yang
sangat pas untuk kita saling menyapa, sebenarnya aku sangat berharap kau
menyapaku walau hanya sekedar bertanya “lo
bawa kamus engga?” pasti aku akan sangat senang.
Tapi ternyata kamu tak sedikitpun menoleh kearahku, aku
sedikit kecewa. Sampai akhirnya di dalam lift hanya tinggal kita berdua dan aku
hanya melihatmu dengan kegelisahan seolah ingin keluar dalam keadaan yang
awkard itu.
Sampai pada akhirnya pintu lift benar-benar terbuka tanpa
ragu kaupun melangkahan kaki meninggalkanku sendiri didalam. Seolah kau ingin
buru-buru mengakhiri pertemuan kita. miris
Aku yang sudah kecewa hanya terdiam dan langsung menuju
loker perpusatakaan, sekilas aku mendengar suaramu yang sedang berbincang
dengan pegawai perpustakaan dengan keperluan ingin meminjam kamus bahasa
inggris.
Setelah aku meletakkan tas di loker, aku kemudian berbalik
badan dan ingin mengambil nomer untuk tukar dengan kunci loker rasanya ketika itu
kau sedang menoleh kearahku, hmm tidak apa aku yang hanya merasa kau menoleh?
namun aku sudah tak peduli, aku juga tak menoleh sedikitpun dan kemudian
berjalan melewatimu. Ternyata kali ini egoku menang melawan hati.
Tapi itu hanya sementara, Pikiranku kemudian kacau, hujan
yang turun ketika itu seolah sangat paham akan perasaanku, seolah dia ingin
menghiburku memberitahu bahwa “jika kau ingin menangis menangislah karena derasnya
hujan ini akan mampu menutupi suara tangismu”bisiknya. Namun aku memilih pulang
meningkalkan perpusatakaan yang dingin itu,sedingin sikapnya terhadapku.
Sebenarnya Aku sangat
penasaran hal apa yang membuatmu tak ingin menyapaku, apa kau lupa namaku? Atau
kau memang tak ingin berteman denganku?Padahal kita berkenalan sudah dengan
cara yang benar, ketika itu kita saling menyebutkan nama dan saling berjabat
tangan.
Lantas, apa yang membuatku menjauhiku wahai pujaanku ?

0 komentar:
Posting Komentar