Hai kamu, bukannya aku tidak mau jujur akan
perasaan ini. Hanya saja aku masih belum siap mendengar jawaban darimu.
Karena jawaban yang akan keluar hanya ada dua,
dan itu sangat berpengaruh terhadap hubungan kita selanjutnya. Apakah kita kan
melanjutkan untuk saling diam, atau malah sebaliknya :’)
Jawaban yang aku takutkan adalah, jika kamu
hanya menganggapku sebatas teman tidak lebih dan kemudian menghilang tanpa
pamit seoah tak terjadi apa-apa. Ya jujur aku belum siap untuk jawaban itu. Aku
masih ingin kita saling mengenal satu sama lain, menjalani ini dengan santai
namun atas dasar keseriusan. Jika memang aku bukan yang kau mau setidaknya kita
bisa “lanjut berteman”
Kamu tak perlu ragu apakah rasaku ini tulus
atau tidak. Aku benar-benar tulus menyukaimu, hanya saja aku masih belum siap
mendengar jawaban darimu. Jujur aku sempat bingung ketika kamu melontarkan
pertanyaan yang jelas jawabannya tertuju padamu. Aku mencoba untuk tidak
menjawabnya dengan cepat. namun aku merasa seolah kamu sudah tahu dan sangat
ingin mendorongku untuk langsung ke inti permasalahannya.
Maaf, tapi aku belum seberani itu…
Kamu menanggapi sapaanku saja aku masih
menganggap ini sebuah mimpi, ini diluar ekspektasiku. Kamu yang sebelumnya
menghindariku dan acuh tak acuh akan keberadaanku kemudian menerimaku dengan
sangat ramah. Bukankah ini sedikit janggal? Seolah ini adalah halusinasi yang
aku buat seperti biasa. Walaupun ini nyata adanya.
Jujur aku sangat senang atas sikapmu, kamu dengan
sangat ramah mau meresponku dengan candaan ringan berupa pesan yang terlintas
di layar handphoneku. Kamu tidak tahu kan? Setiap aku mendapat notif darimu
mukaku langsung memerah, tingkahku seolah benar-benar konyol aku berguling
kesana dan kemari, ya aku sangat senang akan hal itu.
Tapi jujur, disisi lain aku juga takut. Takut
jika nantinya kau cepat bosan bersamaku, takut jika rasa ini hanya sementara. Sebenarnya
hal yang paling aku takutkan adalah jika rasa ini begitu mudah kau terima maka
nantinya “kebahagiaan yang aku rasakan saat
ini juga akan berakhir semudah itu pula”.
Aku ingin membuatmu benar-benar tulus
menyukaiku, bukan karena aku yang menyukaimu lantas kamu yang baik hati mau
merimaku. Bukan tak ingin, aku hanya takut atas apa yang aku rasakan saat ini.
Karena aku menyukaimu tak sebentar sehari dua hari namun termasuk lama, aku
hanya tidak mau rasa ini berakhir dengan sebentar dan mudah.
Berharap? Jujur aku tidak berani ..
Walau aku sangat ingin, namun aku terus
menyadarkan diriku sendiri bahwa “jangan berharap, karena patah hati ada
karena sebuah harapan yang dibuat-buat”
Aku hanya bisa berdoa kepada sang pencipta,
selalu meminta yang terbaik untuk kita berdua.

0 komentar:
Posting Komentar