Minggu, 09 Juni 2019

JIKA AKU BOLEH JUJUR …


Hai kamu, bukannya aku tidak mau jujur akan perasaan ini. Hanya saja aku masih belum siap mendengar jawaban darimu.

Karena jawaban yang akan keluar hanya ada dua, dan itu sangat berpengaruh terhadap hubungan kita selanjutnya. Apakah kita kan melanjutkan untuk saling diam, atau malah sebaliknya :’)

Jawaban yang aku takutkan adalah, jika kamu hanya menganggapku sebatas teman tidak lebih dan kemudian menghilang tanpa pamit seoah tak terjadi apa-apa. Ya jujur aku belum siap untuk jawaban itu. Aku masih ingin kita saling mengenal satu sama lain, menjalani ini dengan santai namun atas dasar keseriusan. Jika memang aku bukan yang kau mau setidaknya kita bisa “lanjut berteman”

Kamu tak perlu ragu apakah rasaku ini tulus atau tidak. Aku benar-benar tulus menyukaimu, hanya saja aku masih belum siap mendengar jawaban darimu. Jujur aku sempat bingung ketika kamu melontarkan pertanyaan yang jelas jawabannya tertuju padamu. Aku mencoba untuk tidak menjawabnya dengan cepat. namun aku merasa seolah kamu sudah tahu dan sangat ingin mendorongku untuk langsung ke inti permasalahannya. 

Maaf, tapi aku belum seberani itu…
Kamu menanggapi sapaanku saja aku masih menganggap ini sebuah mimpi, ini diluar ekspektasiku. Kamu yang sebelumnya menghindariku dan acuh tak acuh akan keberadaanku kemudian menerimaku dengan sangat ramah. Bukankah ini sedikit janggal? Seolah ini adalah halusinasi yang aku buat seperti biasa. Walaupun ini nyata adanya.

Jujur aku sangat senang atas sikapmu, kamu dengan sangat ramah mau meresponku dengan candaan ringan berupa pesan yang terlintas di layar handphoneku. Kamu tidak tahu kan? Setiap aku mendapat notif darimu mukaku langsung memerah, tingkahku seolah benar-benar konyol aku berguling kesana dan kemari, ya aku sangat senang akan hal itu.

Tapi jujur, disisi lain aku juga takut. Takut jika nantinya kau cepat bosan bersamaku, takut jika rasa ini hanya sementara. Sebenarnya hal yang paling aku takutkan adalah jika rasa ini begitu mudah kau terima maka nantinya  “kebahagiaan yang aku rasakan saat ini juga akan berakhir semudah itu pula”.
Aku ingin membuatmu benar-benar tulus menyukaiku, bukan karena aku yang menyukaimu lantas kamu yang baik hati mau merimaku. Bukan tak ingin, aku hanya takut atas apa yang aku rasakan saat ini. Karena aku menyukaimu tak sebentar sehari dua hari namun termasuk lama, aku hanya tidak mau rasa ini berakhir dengan sebentar dan mudah.

Berharap? Jujur aku tidak berani ..
Walau aku sangat ingin, namun aku terus menyadarkan diriku sendiri bahwa “jangan berharap, karena patah hati ada karena sebuah harapan yang dibuat-buat”

Aku hanya bisa berdoa kepada sang pencipta, selalu meminta yang terbaik untuk kita berdua.

0 komentar:

 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template