Senin, 04 Januari 2016

Arti sebuah nilai?



Nilai itu apa sih? Nilai adalah tolak ukur kemampuan siswa dalam sekolah.
Nilai terbagi menjadi dua, pertama nilai yang di dapatkan hasil usaha sendiri dan yang kedua nilai yang didapatkan hasil dari mencontek.

Tapi anehnya tidak ada perbedaan diantara kedua tersebut, padahal nilai hanyalah angka yang mana katanya mewakili sebuah kemampuan.

Lagian Kok bisa kemampuan siswa bisa diukur dari nilai?? Saya juga bingung.
Sebelum memulai membahas lebih jauh alangkah baiknya saya mengutarakan satu kalimat pribahasa konyol ini

“jangan sedih jika kamu mendapatkan nilai jelek hasil sendiri, itu lebih baik daripada mendapatkan nilai bagus hasil mencontek dan sedihlah jika kamu sudah mencontek tapi nilainya tetap jelek” haha nyesel kan bacanya?

Sebelumnya saya sama sekali tidak bermaksud untuk memojokkan orang-orang yang mencontek. Kenapa? Karena meraka yang menyontek pasti memiliki sebuah alasan.

“alasan itu bisa karena belum paham”

Tapi yang saya heran, kenapa image mencontek itu selalu jelek dimata banyak orang??
Mereka para orang pandai tidak pernah mengerti susahnya memahami materi.
Terlebih lagi guru juga bukannya membimbing tapi malah meremed ulang ketika didapati nilai dibawah kkm.
Sebentar-sebentar ini maksudnya bagaimana ya?? Otak saya tidak sampai.

Seorang Guru bukan bertanya
“kenapa” tapi main “hukum”.
Apa itu adil ?

Anak pandai enak sangat mudah memahami, sedangkan kita hanyalah anak yang susah sekali memahami dan mencontek adalah usaha kami untuk mendapatkan nilai bagus.

Karena apa? Di sekolah nilai jauh lebih dihargai daripada kejujuran.
Coba saja kalau yang jujur dan mendapatkan nilai kurang itu diajarkan bukan diremed ulang, mungkin kami tidak akan mencontek karena kami percaya guru sayang sama kami dan akan mengajari dengan ikhlas sampai akhirnya paham.

tapi itu tidak akan mungkin, sudah kodratnya memang nilai lebih tinggi drajatnya.
kita sebagai murid bisa apa??
Mencontek adalah solusinya. bahahaa
Guru yang mengajarnya gagal, kok kita yang disuruh remed ulang??

**
Tapi saya juga tak menyarankan untuk mencontek, lebih baik kita sama-sama belajar.
Mencari teman yang dengan ikhlas mau mengajarkan kita, syukur-syukur mau jadi guru privat gratisan. Hohoo
Apalagi sekarang mau Ujian Nasional, akan sangat membanggakan jika kita menggunakan hasil kerja keras kita sendiri, sensasinya beda men.

**
Saya pernah merasakan belajar mati-matian dan juga pernah merasakan mencontek dengan santai, hasilnya memang lebih bagus yang mencontek tapi rasa bangga sama sekali tidak ada dan otak rasanya kosong, hanya ada angka bagus yang tak ada nilainya.

Kalau kita belajar walaupun nilainya pas-pasan tapi pasti akan ada rasa bangga sedikit, sebuah perasaan ingin berjuang lagi.

Sekian dari saya terimakasih.
Hidup mencontek. EH SALAH
HIDUP BELAJAR :))

Rapot

Widih hari ini gue nerima hasil belajar gue selama 6 bulan alias rapot semester ganjil, yap hasilnya memang tidak memuaskan tapi gue tidak terlalu kecewa, mengapa? Karena menurut gue jangan menilai orang dari hasilnya tapi nilailah dari prosesnya. anjayyyy
Gue mendapatkan peringkat 23 dari 39 anak, bukan hal yang memalukan tapi gue juga engga menganggap ini cukup gue harus lebih belajar lagi, wajar sih gue juga belajarnya kurang karena kebetulan gue memiki lingkungan rumah yang tidak mengenakkan.
Yap gue punya abang yang masih kaya bocah, padahal umur udah kepala dua lebih.
Gue lagi belajar bukannya mengerti malah menyalakan tv, kan Tahi?? Dan orang tua gue cuma bisa menggelengkan kepala tanpa bisa membela karena mungkin itu  cara yang baik baginya.

**
Dan yang mendapatkan peringkat 10 besar dikelas gue memang pantas, karena yang gue liat mereka di sekolah emang srius dalam belajar, sedangkan gue??? Hahaha jangan ditanya udah pasti gue bercanda mulu. Padahal dulu gue sewaktu SD selalu mendapatkan peringkat 5 besar, SMP selalu peringkat tak jauh dari 5 besar dan SMK awal-awalnya sih mendapatkan peringkat 10 besar,tapi sewaktu kenaikan kelas 12 gue tidak mendapatkan peringkat tersebut.
Mungkin ada yang bertanya “kenapa?kok bisa?”
Gimana ya, semakin gede kok gue makin engga terlalu peduli sama nilai, padahal gue inget banget dulu gue sering bangun tengah malem buat sholat tahajud sekalian belajar. Tapi wajar sih dulu kan gue tinggal di desa yang lingkungannya sangat mendukung.
Dan semenjak tinggal di jakarta kebiasaan baik gue sudah mulai pudar karena lingkungan sama sekali tidak mendukung, dari segi teman sekolah dan juga keadaan rumah kontrakan.
Lanjut ke tingkat SMK, awalnya gue biasa aja belajar seadanya tidak berlebihan dan juga tidak kekurangan.
Dan semenjak kenaikan kelas XI gue mulai menyadari tentang arti sebuah nilai, mugkin karena efek dari keseringan nonton dedy corbuzier dan para tokoh lainnya.
Gue akan membahas tentang arti sebuah nilai di artikel gue selanjutnya.

**
 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template