Selasa, 08 Desember 2015

Belajar


Sekarang lagi jaman UAS, yap Ulangan Akhir Sekolah dimana siswa- siswa pada sibuk sama buku pelajaran ya walaupun masih ada beberapa yang sibuk sama pacarnya, berhubung saya jomblo jadi di hati dan otak hanya ada buku seorang. #cieeeeh gajelas!

UAS selalu identik dengan kata “belajar” dan yang saya heran kenapa kita harus belajar? Padahal setiap hari kita sudah belajar di sekolah, rutinitas kita hanya belajar, mengerjakan tugas, ulangan.
dan terus berulang hingga 3 tahun.
Tapi kenapa ketika ujian begini kita harus belajar lebih lagi? Bahkan bisa dibilang belajar dengan sangat keras?

Seolah rutinitas kita, waktu kita yang sudah diluangkan di sekolah sia- sia, apalagi bagi saya yang bersekolah di sekolah swasta merasa rugi karena sudah membayar mahal- mahal.
tapi tetap saja saya harus belajar lebih keras agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan.

Dan dari sini saya bisa simpulkan, sebenarnya kita bisa karena usaha sendiri bukan karena sekolah.

Dan topik ini baru terfikirkan ketika terjadi dialog dengan teman saya

“lu engga belajar” saya bertanya
“engga belajar gue” jawabnya santai sekali
“kenapa”
“engga papa, kan udah belajar setiap hari disekolah” jawabnya lagi.

Seketika otak saya langsung berfikir, benar juga. Saya sudah hampir 12 tahun sekolah dan baru menyadari akan hal tersebut.

“kita sudah setiap hari belajar, kenapa ketika ujian harus belajar lagi?”

Setelah saya berfikir pelan-pelan, akhirnya saya sedikit menemukan jawaban.

“Kenapa kita harus belajar lebih keras, padahal kita sudah setiap hari belajar disekolah”
Echeeem...heemm test suara dulu *pinter banget sii lu mon, kan elu ngetik-_-.
“yailah baper amad,

alasannya adalah karena dalam melakukan rutinitas itu bukan pyur hasil kita sendiri, terkadang kita mencontek sana-sini, alhasil kita menjadi tidak paham apa konsep dari apa yang kita pelajari”.
Coba kita lebih berusaha lagi dengan menggunakan otak sendiri, belum paham tanya sama teman yang paham bila berlu minta diajari.
Belajar kelompok sangatlah perlu, memang aneh tapi nyata, kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan sekolah.
Sekolah hanyalah formalitas semata ternyata. Fakta yang mengejutkan.

"Loh kok gitu kan kita sudah membayar”?

Iya paham, jadi maksudnya gini, sekolah juga tidak sesempurna imajinasi kita, terkadang ada guru yang menyeleweng dan ada juga guru yang bener- bener peduli dengan muridnya.
Oleh karena itu kita harus berusaha sendiri, memanfaatkan otak yang telah allah berikan kepada kita. 
Itu jelas sangat disayangkan. Kita sudah diberi otak secanggih ini namun tidak memanfaatkannya dengan baik.

Kita manusia men, bukan hewan.
kita diberikan akal untuk berfikir.
Cobalah untuk tidak menyalahkan orang lain coba saja perbaiki diri sendiri.



Kenapa pelajar mencontek??

“Karena di indonesia, derajat nilai lebih tinggi daripada kualitas diri sendiri.
Pernah saya dulu berniat tidak mengerjakan PR dan berharap ditanya
”kenapa kamu tidak mengerjakan PR?”
kan bisa saya jawab “saya belum terlalu paham pak/bu”
Tapi bukan ditanya kenapa dan diajarkan ulang malah saya dihukum, nilai kosong, padahal inikan bukan salah saya, saya hanya mencoba jujur.

Akhirnya terbuktikan derajat nilai itu lebih tinggi, bahkan kejujuran saja tak dianggap jika berhubungan dengan nilai.
Akhirnya beberapa dari pelajar lebih memilih untuk mencontek termasuk saya.

Awalnya saya paling malas yang namanya mencontek. Karena apa?
Tidak ada faedahnya sama sekali menyalin sebuah jawaban yang kita sendiri tidak tahu asal usulnya darimana?
Bagai menulis saja tanpa tahu apa yang ditulis. Dan menurut saya itu sama sekali kegiatan yang tidak penting.

Dann karena saya mengikuti logika dan kata hati. Akhirnya di rapot muncullah huruf “C+” yang artinya saya musti remed, kan ta* (nitttt) padahal saya jujur tapi kenapa jadi terzolimi ??”

Akhirnya semenjak kejadian itu saya lebih memilih mencontek demi nilai.
Mau bagaimana lagi, kita memang harus mengikuti adat sekolah yang jelek ini.
Siswa mendapat nilai jelek bukan dibimbing tapi diremed ulang.

Disini saya bingung. Coba kita telaah


"kita remed karena kita belum paham, pas remed dikasih soal ulang”
Lah mau sampe konoha pindah ke jakarta juga engga bakal bisa karena masalahnya itu ada di pemahaman.

Terkadang aneh.
Siswa yang tidak bisa mengerjakan pr bukan ditanya kenapa terus dikasih solusi tapi malah dihukum.

apasih pentingnya nilai sampai jika mendapatkan nilai jelek langsung dicap “bego”
Astagfirullah, pak bu kami sekolah mau belajar, didik kami, bimbing kami ajari kami sekali dua kali jika kami belum paham tolong dengan sabar ulangi lagi tiga kali. Karena kami hanya manusia bisa bukan robot.

Sekolah itu untuk belajar, dapat nilai jelek ya wajar.
Lah ini mendapat nilai jelek berasa mendapatkan sebuah bala.
Katanya”lebih baik mendapat nilai jelek hasil sendiri ketimbang nilai bagus hasil orang lain.
Setidaknya kita tau dimana sih tingkat kepahaman kita, usai ulangan kita jadi tau oh materi ini yang gue belum kuasai, oh cara ngitung ini yang gue lupa. dll”
Tapi terkadang sekolah dan guru lupa akan hal itu.

Saya hanya bisa terus berdoa dan berharap semoga kelak ada guru yang sangat peduli dengan muridnya bukan dengan nilainya.
Dan tentu saja semoga fungsi sekolah tidak menyeleweng, yang tadinya membuat anak bangsa cerdas bukan mendapatkan nilai bagus.

Harusnya nilai itu tidak jadi prioritas, tapi lebih mengedepankan kualitas pelajar itu sendiri. Sukses itu bukan ketika kita mendapatkan nilai bagus, tapi ketika kita sadar akan kekurangan kita dan berusaha memperbaiki dan kemudian menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sebelumnya mohon mahaf jika ada salah kata, atau ada pihak yang kurang berkenan karena ini tulisan hanya argumen semata.
 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template