Masih melanjutkan tema sebelumnya, kali ini bahasan kita mengenai "jomblo". Wih tiba-tiba horor hehe.
Alhamdulillah aku sendiri sudah melakoni status ini sejak 5 tahun belakangan.
"kok jadi jones alahamdulillah sih lu mon?
Iya dong Alhamdulillah, sesayang itu Allah swt sama hambanya yang satu ini padahal hambanya masih suka bandel :(( tapi Allah mah sayang sama hambanya coba kalau manusia sudah diblokir pasti aku, jadi hambanya. :((. Masya allah kan? Allah ingin menjagaku dari hal-hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi.
Memang harus diakui, awal menjadi jomblo bukanlah hal yang mudah dan enak, malah bisa dibilang pahit. Ketika terbiasa mendapatkan perhatian sekarang tidak, ketika terbiasa mempunyai pasangan jalan sekarang tidak, ketika terbiasa dijemput sekarang tidak.
Harus memulai lagi beradaptasi dengan keadaan baru.
Sebetulnya kalau dipikir-pikir bukannya justru bagus ya menjadikan kita pribadi yang tidak bergantung pada orang lain dan menjadi mandiri?
Iya, awalnya aku mencoba berfikir positif seperti itu. Namun jika hanya berpegang pemikiran seperti itu maka tidak ada keberkahannya sama sekali. Bisa saja aku akan kembali "pacaran" seperti dahulu? Sangat mungkin.
Namun, semakin berjalannya waktu dimana masih belajar memperbaiki diri sendiri, terlebih memperbaiki imanku. Aku benar-benar sangat bersyukur atas status jombloku ini.
Kenapa? karena dalam islam tidak diperbolehkan yang namanya "pacaran", dan "pacaran" itu dosa karena berpotensi melakukan maksiat. Nauzubillah
Nah permasalahannya saat ini
"kok bisa, dahulu aku ini pacaran padahal pengetahuanku mengenai pacaran itu (dosa) sudah ada sejak dahulu?
Wah sangat menarik nih pertanyaan.
Aku teringat dengan ucapan ust gusman yang aku dapati ilmunya ketika ikut kajian dikampusku, beliau berkata
"iman adalah pemahaman"
Ada makna dibalik kalimat itu, waktu itu ust gusman tersebut menceritakan sebuah kisah agar kami menjadi lebih paham, ya walaupun aku tidak begitu ingat detailnya, insya allah akan aku ceritakan kembali intinya. Mungkin akan sedikit panjang, semoga kalian tidak bosan membaca.
***
Jadi cerita ini adalah kisah si jamal dan jam tangan lusuh pemberian kyainya.
Suatu ketika jamal diberi hadiah jam tangan dari sang kyai, jamal melihat jam tangan itu sangat lusuh dan sebetulnya tidak tertarik untuk menerima pemberian itu namun karena merasa tidak enak dengan sang kyai maka jamal menerimanya.
"ah jam lusuh aja, jelek pasti tidak ada harganya" fikir jamal.
Pemikiran/pemahaman jamal mengenai jam tersebut akhirnya membuat jamal teledor dengan jamnya. Dia taruh saja jam tangannya di sembarang tempat. Toh tidak akan ada yang mau mencuri walau sebetulnya kalaupun dicuri jamal pasti sangat ikhlas.
Suatu ketika, jamal sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat dengan naik kereta disana bertemulah ia dengan seseorang yang bilang kepadanya.
"jam tanganmu bagus sekali, ini kualitas mahal. Aku berani membeli dengan harga 50juta"
Mendegar ucapan seseorang tersebut jamal kaget, kok bisa jam yang dianggapnya lusuh bernilai 50 juta?
Dengan tidak percaya, akhirnya jamal pergi ke toko jam tangan ternama dan disana jamal kembali terkejut karena jam tangannya dihargai 100 juta.
Mengetahui kenyataan itu, membuat jamal akhirnya memiliki pemikiran baru/pemahaman baru. Jam lusuh kini bernilai ratusan jutaan rupiah.
Akhirnya semenjak itu jamal sangat dengan hati-hati menjaga jam tangannya. Bahkan ia simpan ditempat yang paling aman dirumahnya.
Nah, inti dari cerita diatas adalah bagaimana pemahaman akhirnya mengubah perilaku dan perbuatan kita.
Dahulu aku memang tahu kalau pacaran itu dosa, namun aku tidak benar-benar paham mengenai alasan "kenapa bisa disebut dosa".
#YUKPERBAIKIPEMAHAMANKITA
#YUKHIJRAH
#TINGGALKANATAUHALALKAN
Semoga, kita semua menjadi hamba allah swt yang terus memperbaiki diri. Memperbaiki iman dengan belajar lagi tentang pemahaman. Amin
Dalam tulisan ini, sama sekali tidak bermaksud menyinggung siapapun atau sudah merasa menjadi manusia yang baik dan suci. Tidak sama sekali.
Sesungguhnya Aku juga masih belajar, belajar menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi setiap harinya.
NOBAPER YA GUYS :))
SEKIAN, ASSALAMUALAIKUM :))
Selasa, 26 November 2019
"Niat yang awalnya salah namun berakhir insya allah berkah"
Pada kesempatan kali ini, aku mau sedikit sharing tentang diri aku sendiri. Terutama mengenai niat yang salah.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku smp kelas 8 rambutku pendek dengan potongan mirip seperti potongan rambut laki-laki. Selain karena memang rambutku rontok karena sakit kala itu, alasan yang lain karena memang aku ingin memotong rambutku sangat pendek seperti pemain drama yang aku tonton.
Entah alasan yang mana yang akhirnya membuatku memotong rambut, terlebih aku memang wanita tomboy sejak kecil.
Dan karena rambut pendekku saat itu, banyak yang bilang penampilan ku keren, ada juga orang-orang yang tak berkomentar namun ternyata ada satu guru yang menyebutku "lanang".
Ya walaupun aku memang mengakui mirip laki-laki. Namun ucapannya membuatku sedikit terganggu.
Sekali dua kali aku anggap angin lalu, namun entah kenapa akhirnya aku malas dengan panggilan itu. Dari sinilah akhirnya aku mulai memakai hijab. Ya awalnya memang memakai jika disekolah saja, diluar sekolah? Langsung lepas. Nauuzubillah
Yaa memang begitu awalku memakai hijab, namun entah kenapa lama lama aku justru terbiasa memakai hijab yang awalnya hanya aku perlakukan bagai topeng. Dan semakin lama, Aku justru merasa risih jika keluar rumah tak mengenakan hijab. Masya allah memang terkadang hidayah allah seperti itu, padahal niat awalnya bukan untuk mencari ridha allah swt namun berakhir insya allah berkah. Amin
Dan saat ini. Aku masih terus belajar memperbaiki hijabku.
***
Cerita kedua tentang hijrahku yang awalnya ingin menjadi lebih baik demi sebanding dengan sang lelaki idaman.
Jadi singkat cerita, aku tak sengaja menoleh ke kiri tempat dimana para ikhwan beribadah dan entah kenapa mataku seolah menemukan lelaki itu. Laki-laki yang dikenalkan denganku beberapa waktu lalu.
Dan tak diduga, hari hari berikutnya menjadi terbiasa menoleh ke kiri dan menemukannya (lagi). Entah tanpa kusadari seperti sebuah candu sampai akhirnya menoleh menjadi kebiasaanku.
Bagiku melihatnya dari belakang adalah sebuah kebahagian, semangatku seolah terisi kembali.
Dan entah kenapa dalam hati aku sangat yakin menganggap bahwa dia kelak adalah "calon suamiku". Entah kenapa aku begitu yakin sampai terlihat tak tahu diri.
Karena yang aku lihat adalah sosok ikhwan yg soleh, padahal aku juga tahu bahwa sholat itu adalah kewajiban namun entah kenapa aku menganggapnya "dia pria baik"
Semenjak itu, karena kata orang "jodoh adalah cerminan diri" dan kebetulan yang aku inginkan jodohku memang dia. Aku akhirnya belajar memperbaiki diri dimulai dari hal-hal kecil.
Nauzubillah niatku kala itu salah sekali :((
Aku belajar memperbaiki kualitas sholatku, mendengar kajian kajian dan lainnya, masya allah imanku terasa terisi sekali. Aku benar-bener merasakan enegery yang masuk kedalam jiwaku. Akhirnya dalam proses belajar ini aku sangat menikmatinya sampai-sampai aku lupa tujuanku, aku lupa niat awalku.
Dan akhirnya aku belajar memperbaiki imanku, tanpa lagi menjadikan pria itu fokus utamaku. Justru sekarang aku pasrahkan saja kepada Allah swt, lagian aku sok tahu sekali menganggap dia pria baik yang pasti akan cocok untuk menjadi jodohku. Padahal Allah swt lebih tahu mana yang baik untuk hambanya.
Masya allah, terkadang hidayah datang dengan cara yang mungkin saja salah. Terima kasih ya allah engkau telah datangkan hidayah ini.
Mungkin ada yang bertanya
"kamu yakin proses hijarahmu ini pyur mencari ridho allah swt?
"sangat yakin. Awalnya memang niatku salah namun kuasa Allah begitu besar sampai akhirnya membelokkan arah tujuanku.
"jika kita merasa kecewa dengan tujuan kita, harapan kita, niat kita, namun kita tidak kembali lagi ke jaman jahiliyah dan menganggap proses hijrah ini sia-sia. Insya allah niat kita sudah dibelokkan oleh Allah untuk mencari ridhonya semata. Masya allah
Dulu ketika aku masih duduk di bangku smp kelas 8 rambutku pendek dengan potongan mirip seperti potongan rambut laki-laki. Selain karena memang rambutku rontok karena sakit kala itu, alasan yang lain karena memang aku ingin memotong rambutku sangat pendek seperti pemain drama yang aku tonton.
Entah alasan yang mana yang akhirnya membuatku memotong rambut, terlebih aku memang wanita tomboy sejak kecil.
Dan karena rambut pendekku saat itu, banyak yang bilang penampilan ku keren, ada juga orang-orang yang tak berkomentar namun ternyata ada satu guru yang menyebutku "lanang".
Ya walaupun aku memang mengakui mirip laki-laki. Namun ucapannya membuatku sedikit terganggu.
Sekali dua kali aku anggap angin lalu, namun entah kenapa akhirnya aku malas dengan panggilan itu. Dari sinilah akhirnya aku mulai memakai hijab. Ya awalnya memang memakai jika disekolah saja, diluar sekolah? Langsung lepas. Nauuzubillah
Yaa memang begitu awalku memakai hijab, namun entah kenapa lama lama aku justru terbiasa memakai hijab yang awalnya hanya aku perlakukan bagai topeng. Dan semakin lama, Aku justru merasa risih jika keluar rumah tak mengenakan hijab. Masya allah memang terkadang hidayah allah seperti itu, padahal niat awalnya bukan untuk mencari ridha allah swt namun berakhir insya allah berkah. Amin
Dan saat ini. Aku masih terus belajar memperbaiki hijabku.
***
Cerita kedua tentang hijrahku yang awalnya ingin menjadi lebih baik demi sebanding dengan sang lelaki idaman.
Jadi singkat cerita, aku tak sengaja menoleh ke kiri tempat dimana para ikhwan beribadah dan entah kenapa mataku seolah menemukan lelaki itu. Laki-laki yang dikenalkan denganku beberapa waktu lalu.
Dan tak diduga, hari hari berikutnya menjadi terbiasa menoleh ke kiri dan menemukannya (lagi). Entah tanpa kusadari seperti sebuah candu sampai akhirnya menoleh menjadi kebiasaanku.
Bagiku melihatnya dari belakang adalah sebuah kebahagian, semangatku seolah terisi kembali.
Dan entah kenapa dalam hati aku sangat yakin menganggap bahwa dia kelak adalah "calon suamiku". Entah kenapa aku begitu yakin sampai terlihat tak tahu diri.
Karena yang aku lihat adalah sosok ikhwan yg soleh, padahal aku juga tahu bahwa sholat itu adalah kewajiban namun entah kenapa aku menganggapnya "dia pria baik"
Semenjak itu, karena kata orang "jodoh adalah cerminan diri" dan kebetulan yang aku inginkan jodohku memang dia. Aku akhirnya belajar memperbaiki diri dimulai dari hal-hal kecil.
Nauzubillah niatku kala itu salah sekali :((
Aku belajar memperbaiki kualitas sholatku, mendengar kajian kajian dan lainnya, masya allah imanku terasa terisi sekali. Aku benar-bener merasakan enegery yang masuk kedalam jiwaku. Akhirnya dalam proses belajar ini aku sangat menikmatinya sampai-sampai aku lupa tujuanku, aku lupa niat awalku.
Dan akhirnya aku belajar memperbaiki imanku, tanpa lagi menjadikan pria itu fokus utamaku. Justru sekarang aku pasrahkan saja kepada Allah swt, lagian aku sok tahu sekali menganggap dia pria baik yang pasti akan cocok untuk menjadi jodohku. Padahal Allah swt lebih tahu mana yang baik untuk hambanya.
Masya allah, terkadang hidayah datang dengan cara yang mungkin saja salah. Terima kasih ya allah engkau telah datangkan hidayah ini.
Mungkin ada yang bertanya
"kamu yakin proses hijarahmu ini pyur mencari ridho allah swt?
"sangat yakin. Awalnya memang niatku salah namun kuasa Allah begitu besar sampai akhirnya membelokkan arah tujuanku.
"jika kita merasa kecewa dengan tujuan kita, harapan kita, niat kita, namun kita tidak kembali lagi ke jaman jahiliyah dan menganggap proses hijrah ini sia-sia. Insya allah niat kita sudah dibelokkan oleh Allah untuk mencari ridhonya semata. Masya allah
Langganan:
Komentar (Atom)
