Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar
akuntansi dengan tema pembahasan “Akuntansi
di era revolusi industri 4.0” atau tepatnya tanggal 8 Januari 2020 yang
berlokasi di Universitas Satya Negara Indonesia.
Tujuan diadakan seminar itu sebetulnya untuk menyadarkan
atau mengubah pola pemikiran kita yang masih dibilang kaku, padahal kita sudah
memasuki revolusi industri 4.0. Dan karena merasa tertarik mengenai bahasan
tersebut tidak ada salahnya saya mengulasnya kembali disini.
Disana dibahas bahwa perusahaan-perusahaan
startup masih bingung mencari akuntan yang mampu mengikuti jenis usahanya. Dan
akuntan yang tidak pernah mati adalah akuntan yang memiliki daya analisa yang
tidak hanya mencetak Laporan Keuangan saja. Karena kita juga tahu betul jika
hanya itu, sistem akan jauh lebih canggih ketimbang kita. Bukannya ini menarik?
Akhirnya muncul sebuah pertanyaan
“bagaimana kampus bisa mencetak mahasiswa yang
mempunyai daya analisa, sedangkan ketika diberikan tugas analisa saja masih banyak
yang mengeluh?
Klo menurut saya jawabannya klise.
Pertama, mahasiswa tidak pernah diberi tahu caranya menganalisa karena yang dikejar hanya teori
kedua, Tugas yang diberikan kepada mahasiswa
tidak pernah ada evaluasi, sehingga kita para mahasiswa tidak pernah tahu
analisa yang dikerjakan sudah sesuai belum. Imbasnya mahasiswa tidak memiliki
kebanggan terhadap apa yang ia kerjakan.
Ketiga, Ya memang pribadi mahasiswanya sendiri
yang belum sadar kalau kita itu sudah berada di revolusi industri 4.0.
Yang mana pekerjaan akuntan tidak hanya
mencetak Laporan Keuangan saja, Akuntan harus pandai dalam analisa Laporan
Keuangan tersebut, pandai dalam berinovasi,research development dan
memproyeksikan kedepannya. Karena pekerjaan yang sifatnya berulang, Rutin dan secara
teknis sudah bisa digantikan dengan menggunakan sistem.
Dan akhirnya saya mempunyai pemikiran
“berarti para auditor sebetulnya sudah memiliki
point plus dong sejak dahulu?
Ternyata masih belum tepat, mereka masih
memiliki sisi minus. Sisi minus dari para auditor adalah yang masih bisa
disogok, intregritasnya masih ada beberapa yang kurang. Sampai banyak yang kemudian
berfikir.
"udahlah bikin mesinnya saja supaya tidak bisa disogok!”
Nah kalau hal itu beneran terjadi? selesai
sudah para profesi akuntan. Say goodbye akuntan.
Ehiya kalo tidak salah udah memasuki revolusi 5.0 dimana kita harus bersahabat dengan teknologi. Berpartner
dengannya. Teknologi bukan lagi musuh tapi partner. misalnya seperti melakukan stock opname dengan
menggunakan drone, hahaha ngga habis pikir sih.
Dan kemudian ada yang bertanya kepada saya
"bagimana caranya
supaya menjadi akuntan yang punya daya anlisis?
sama persis seperti yang ditanya salah
satu peserta seminar kala itu, dan Jawabannya simple
"kembali lagi ke pribadinya masing-masing, mau tidak berkembang? Atau
mau berada dizona seperti ini saja.
Dan kalau dipikir-pikir disini peran kampus harus terlibat, harus ikut andil dalam pembentukan
daya analisa mahasiswanya. Yaa mungkin mulai mengurangi teori dan lebih mengutamakan
praktek dan berbagi pengalaman-pengalaman mereka ketika di lapangan,
saya bisa bicara seperti ini mungkin karena saya masih mahasiswa semester 5 dan
ketika saya membuka kembali buku panduan ternyata ada matkul pratikum
pengauditan di semester 7, yaa semoga saja ketika mendapatkan mata kuliah
tersebut mampu membuat skill menganalisa berkembang dan tentunya harus
dievaluasi oleh dosennya supaya mahasiswanya tahu analisa yang dikerjakan sudah
betul atau masih salah. Tapi kalau di pikir ulang bukannya akan lebih baik jika
semenjak semester pertengahan seperti ini dibiasakan ya supaya mahasiswanya
tidak kaget, lagian jika hanya belajar teori menurut saya bisa dibaca sendiri.
Ada yang bilang
"lu enak
mon, udah punya jiwa akuntan. Bisa analisa. Lah gue boro-boro”
Eh serius kalian
bilang seperti ini? Ini sudah jenjang kuliah loh, bukan sekolah lagi. Yang mana
keputusan kalian itu berada ditangan kalian sendiri. Okelah, dulu ketika sekolah
kita memang tidak bisa menentukan pilihan kita dan dipaksa untuk mampu di semua
mata pelajaran. Yang kita sendiri tahu betul porsi manusia itu ada batasnya
masing-masing. Dan kalau boleh jujur sebetulnya mereka yang serba bisa disegala
mata pelajaran justru akan jauh lebih bingung menentukan tujuan hidupnya. Mana yang
menurutnya sesuai passion karena mereka menganggap semuanya sama. Eh kok jadi
beda topik? Back back.
Tapi kalian sudah
berada di jenjang kuliah, dimana keputusan pyur ditangan kalian. Kalian yang memilih
jurusan akuntansi seharusnya paham kedepanya akan seperti apa. Yang jelas
kalian pasti akan pusing. Betul tidak?haha
Dan kalau sudah
ditahap ini orang-orang akan menyebutnya "salah jurusan".
Kalau Menurut
saya tidak ada istilah salah jurusan. Kalau kalian mencari betul informasi
mengenai jurusan yang kalian ambil.
Tapi memang
kodratnya manusia suka menyalahkan, padahal pribadinya yang malas mencari
informasi.
"terus
sekarang gimana? Eh kok tanya saya, tanyakan kepada diri kalian masing-masing.
"apa sebenarnya
yang kalian mau,apa yang sebenarnya kalian ingin kejar"
Karena ini adalah
hidup kalian, kalianlah yang akan bertanggung jawab atas pilihan itu. Tapi kalau
boleh kasih saran nih ya,
“ketika kita
merasa terlalu jauh atau tidak mampu untuk kembali, terus saja berjalan. Tapi
dalam perjalanan itu kita harus bersungguh-sungguh”.
Percaya deh,
walaupun hasilnya mungkin belum maksimal tapi ketika kita bersungguh-sungguh
pasti allah akan memberikan hasil yang terbaik. Bukannya ada yg pernah bilang
"proses itu jauh lebih berharga daripada
hasil"
Jalani dan
nikmati saja prosesnya, seru kok, pusing mah wajar. Tapi jangan dijadikan
beban. Belajarlah bertanggung jawab atas pilihan kita, tentunya dengan
menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
SEMANGAT :)
