Selasa, 14 Januari 2020

AKUNTAN YANG MEMILIKI DAYA ANALISA

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar akuntansi dengan tema pembahasan “Akuntansi di era revolusi industri 4.0” atau tepatnya tanggal 8 Januari 2020 yang berlokasi di Universitas Satya Negara Indonesia.
 
Tujuan diadakan seminar itu sebetulnya untuk menyadarkan atau mengubah pola pemikiran kita yang masih dibilang kaku, padahal kita sudah memasuki revolusi industri 4.0. Dan karena merasa tertarik mengenai bahasan tersebut tidak ada salahnya saya mengulasnya kembali disini.

Disana dibahas bahwa perusahaan-perusahaan startup masih bingung mencari akuntan yang mampu mengikuti jenis usahanya. Dan akuntan yang tidak pernah mati adalah akuntan yang memiliki daya analisa yang tidak hanya mencetak Laporan Keuangan saja. Karena kita juga tahu betul jika hanya itu, sistem akan jauh lebih canggih ketimbang kita. Bukannya ini menarik?

Akhirnya muncul sebuah pertanyaan
“bagaimana kampus bisa mencetak mahasiswa yang mempunyai daya analisa, sedangkan ketika diberikan tugas analisa saja masih banyak yang mengeluh?

Klo menurut saya jawabannya klise. 
Pertama, mahasiswa tidak pernah diberi tahu caranya menganalisa karena yang dikejar hanya teori
kedua, Tugas yang diberikan kepada mahasiswa tidak pernah ada evaluasi, sehingga kita para mahasiswa tidak pernah tahu analisa yang dikerjakan sudah sesuai belum. Imbasnya mahasiswa tidak memiliki kebanggan terhadap apa yang ia kerjakan.
Ketiga, Ya memang pribadi mahasiswanya sendiri yang belum sadar kalau kita itu sudah berada di revolusi industri 4.0.

Yang mana pekerjaan akuntan tidak hanya mencetak Laporan Keuangan saja, Akuntan harus pandai dalam analisa Laporan Keuangan tersebut, pandai dalam berinovasi,research development dan memproyeksikan kedepannya. Karena pekerjaan yang sifatnya berulang, Rutin dan secara teknis sudah bisa digantikan dengan menggunakan sistem.

Dan akhirnya saya mempunyai pemikiran
“berarti para auditor sebetulnya sudah memiliki point plus dong sejak dahulu?
Ternyata masih belum tepat, mereka masih memiliki sisi minus. Sisi minus dari para auditor adalah yang masih bisa disogok, intregritasnya masih ada beberapa yang kurang. Sampai banyak yang kemudian berfikir.
"udahlah bikin mesinnya saja supaya  tidak bisa disogok!”

Nah kalau hal itu beneran terjadi? selesai sudah para profesi akuntan. Say goodbye akuntan.
Ehiya kalo tidak salah udah memasuki revolusi 5.0 dimana kita harus bersahabat dengan teknologi. Berpartner dengannya. Teknologi bukan lagi musuh tapi partner. misalnya seperti melakukan stock opname dengan menggunakan drone, hahaha ngga habis pikir sih.

Dan kemudian ada yang bertanya kepada saya
"bagimana caranya supaya menjadi akuntan yang punya daya anlisis?
sama persis seperti yang ditanya salah satu peserta seminar kala itu, dan Jawabannya simple
"kembali lagi ke pribadinya masing-masing, mau tidak berkembang? Atau mau berada dizona seperti ini saja.

Dan kalau dipikir-pikir disini peran kampus harus terlibat, harus ikut andil dalam pembentukan daya analisa mahasiswanya. Yaa mungkin mulai mengurangi teori dan lebih mengutamakan praktek dan berbagi pengalaman-pengalaman mereka ketika di lapangan, saya bisa bicara seperti ini mungkin karena saya masih mahasiswa semester 5 dan ketika saya membuka kembali buku panduan ternyata ada matkul pratikum pengauditan di semester 7, yaa semoga saja ketika mendapatkan mata kuliah tersebut mampu membuat skill menganalisa berkembang dan tentunya harus dievaluasi oleh dosennya supaya mahasiswanya tahu analisa yang dikerjakan sudah betul atau masih salah. Tapi kalau di pikir ulang bukannya akan lebih baik jika semenjak semester pertengahan seperti ini dibiasakan ya supaya mahasiswanya tidak kaget, lagian jika hanya belajar teori menurut saya bisa dibaca sendiri.

Ada yang bilang
"lu enak mon, udah punya jiwa akuntan. Bisa analisa. Lah gue boro-boro”
Eh serius kalian bilang seperti ini? Ini sudah jenjang kuliah loh, bukan sekolah lagi. Yang mana keputusan kalian itu berada ditangan kalian sendiri. Okelah, dulu ketika sekolah kita memang tidak bisa menentukan pilihan kita dan dipaksa untuk mampu di semua mata pelajaran. Yang kita sendiri tahu betul porsi manusia itu ada batasnya masing-masing. Dan kalau boleh jujur sebetulnya mereka yang serba bisa disegala mata pelajaran justru akan jauh lebih bingung menentukan tujuan hidupnya. Mana yang menurutnya sesuai passion karena mereka menganggap semuanya sama. Eh kok jadi beda topik? Back back.

Tapi kalian sudah berada di jenjang kuliah, dimana keputusan pyur ditangan kalian. Kalian yang memilih jurusan akuntansi seharusnya paham kedepanya akan seperti apa. Yang jelas kalian pasti akan pusing. Betul tidak?haha
Dan kalau sudah ditahap ini orang-orang akan menyebutnya "salah jurusan".
Kalau Menurut saya tidak ada istilah salah jurusan. Kalau kalian mencari betul informasi mengenai jurusan yang kalian ambil.

Tapi memang kodratnya manusia suka menyalahkan, padahal pribadinya yang malas mencari informasi.
"terus sekarang gimana? Eh kok tanya saya, tanyakan kepada diri kalian masing-masing.
"apa sebenarnya yang kalian mau,apa yang sebenarnya kalian ingin kejar"
Karena ini adalah hidup kalian, kalianlah yang akan bertanggung jawab atas pilihan itu. Tapi kalau boleh kasih saran nih ya,
“ketika kita merasa terlalu jauh atau tidak mampu untuk kembali, terus saja berjalan. Tapi dalam perjalanan itu kita harus bersungguh-sungguh”.


Percaya deh, walaupun hasilnya mungkin belum maksimal tapi ketika kita bersungguh-sungguh pasti allah akan memberikan hasil yang terbaik. Bukannya ada yg pernah bilang
"proses itu jauh lebih berharga daripada hasil"
Jalani dan nikmati saja prosesnya, seru kok, pusing mah wajar. Tapi jangan dijadikan beban. Belajarlah bertanggung jawab atas pilihan kita, tentunya dengan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
SEMANGAT :)

0 komentar:

 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template