Selasa, 08 Desember 2015

Kenapa pelajar mencontek??

“Karena di indonesia, derajat nilai lebih tinggi daripada kualitas diri sendiri.
Pernah saya dulu berniat tidak mengerjakan PR dan berharap ditanya
”kenapa kamu tidak mengerjakan PR?”
kan bisa saya jawab “saya belum terlalu paham pak/bu”
Tapi bukan ditanya kenapa dan diajarkan ulang malah saya dihukum, nilai kosong, padahal inikan bukan salah saya, saya hanya mencoba jujur.

Akhirnya terbuktikan derajat nilai itu lebih tinggi, bahkan kejujuran saja tak dianggap jika berhubungan dengan nilai.
Akhirnya beberapa dari pelajar lebih memilih untuk mencontek termasuk saya.

Awalnya saya paling malas yang namanya mencontek. Karena apa?
Tidak ada faedahnya sama sekali menyalin sebuah jawaban yang kita sendiri tidak tahu asal usulnya darimana?
Bagai menulis saja tanpa tahu apa yang ditulis. Dan menurut saya itu sama sekali kegiatan yang tidak penting.

Dann karena saya mengikuti logika dan kata hati. Akhirnya di rapot muncullah huruf “C+” yang artinya saya musti remed, kan ta* (nitttt) padahal saya jujur tapi kenapa jadi terzolimi ??”

Akhirnya semenjak kejadian itu saya lebih memilih mencontek demi nilai.
Mau bagaimana lagi, kita memang harus mengikuti adat sekolah yang jelek ini.
Siswa mendapat nilai jelek bukan dibimbing tapi diremed ulang.

Disini saya bingung. Coba kita telaah


"kita remed karena kita belum paham, pas remed dikasih soal ulang”
Lah mau sampe konoha pindah ke jakarta juga engga bakal bisa karena masalahnya itu ada di pemahaman.

Terkadang aneh.
Siswa yang tidak bisa mengerjakan pr bukan ditanya kenapa terus dikasih solusi tapi malah dihukum.

apasih pentingnya nilai sampai jika mendapatkan nilai jelek langsung dicap “bego”
Astagfirullah, pak bu kami sekolah mau belajar, didik kami, bimbing kami ajari kami sekali dua kali jika kami belum paham tolong dengan sabar ulangi lagi tiga kali. Karena kami hanya manusia bisa bukan robot.

Sekolah itu untuk belajar, dapat nilai jelek ya wajar.
Lah ini mendapat nilai jelek berasa mendapatkan sebuah bala.
Katanya”lebih baik mendapat nilai jelek hasil sendiri ketimbang nilai bagus hasil orang lain.
Setidaknya kita tau dimana sih tingkat kepahaman kita, usai ulangan kita jadi tau oh materi ini yang gue belum kuasai, oh cara ngitung ini yang gue lupa. dll”
Tapi terkadang sekolah dan guru lupa akan hal itu.

Saya hanya bisa terus berdoa dan berharap semoga kelak ada guru yang sangat peduli dengan muridnya bukan dengan nilainya.
Dan tentu saja semoga fungsi sekolah tidak menyeleweng, yang tadinya membuat anak bangsa cerdas bukan mendapatkan nilai bagus.

Harusnya nilai itu tidak jadi prioritas, tapi lebih mengedepankan kualitas pelajar itu sendiri. Sukses itu bukan ketika kita mendapatkan nilai bagus, tapi ketika kita sadar akan kekurangan kita dan berusaha memperbaiki dan kemudian menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sebelumnya mohon mahaf jika ada salah kata, atau ada pihak yang kurang berkenan karena ini tulisan hanya argumen semata.

0 komentar:

 
Sebuah Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template