Pernah saya dulu berniat tidak
mengerjakan PR dan berharap ditanya
”kenapa kamu tidak mengerjakan PR?”
kan bisa saya jawab “saya belum terlalu paham pak/bu”
”kenapa kamu tidak mengerjakan PR?”
kan bisa saya jawab “saya belum terlalu paham pak/bu”
Tapi bukan ditanya kenapa dan
diajarkan ulang malah saya dihukum, nilai kosong, padahal inikan bukan salah saya, saya hanya mencoba jujur.
Akhirnya terbuktikan derajat
nilai itu lebih tinggi, bahkan kejujuran saja tak dianggap jika berhubungan
dengan nilai.
Akhirnya beberapa dari pelajar
lebih memilih untuk mencontek termasuk saya.
Awalnya saya paling malas yang namanya mencontek. Karena apa?
Tidak ada faedahnya sama sekali menyalin sebuah jawaban yang kita sendiri tidak tahu asal usulnya darimana?
Bagai menulis saja tanpa tahu apa yang ditulis. Dan menurut saya itu sama sekali kegiatan yang tidak penting.
Dann karena saya mengikuti logika dan kata hati. Akhirnya di rapot muncullah huruf “C+” yang artinya saya musti remed, kan ta* (nitttt) padahal saya jujur tapi kenapa jadi terzolimi ??”
Tidak ada faedahnya sama sekali menyalin sebuah jawaban yang kita sendiri tidak tahu asal usulnya darimana?
Bagai menulis saja tanpa tahu apa yang ditulis. Dan menurut saya itu sama sekali kegiatan yang tidak penting.
Dann karena saya mengikuti logika dan kata hati. Akhirnya di rapot muncullah huruf “C+” yang artinya saya musti remed, kan ta* (nitttt) padahal saya jujur tapi kenapa jadi terzolimi ??”
Akhirnya semenjak kejadian itu saya lebih
memilih mencontek demi nilai.
Mau bagaimana lagi, kita memang harus mengikuti adat sekolah yang jelek ini.
Mau bagaimana lagi, kita memang harus mengikuti adat sekolah yang jelek ini.
Siswa mendapat nilai jelek
bukan dibimbing tapi diremed ulang.
Disini saya bingung. Coba kita telaah
"kita remed karena kita
belum paham, pas remed dikasih soal ulang”
Lah mau sampe konoha pindah ke
jakarta juga engga bakal bisa karena masalahnya itu ada di pemahaman.
Terkadang aneh.
Siswa yang tidak bisa
mengerjakan pr bukan ditanya kenapa terus dikasih solusi tapi malah dihukum.
apasih pentingnya nilai sampai
jika mendapatkan nilai jelek langsung dicap “bego”
Astagfirullah, pak bu kami
sekolah mau belajar, didik kami, bimbing kami ajari kami sekali dua kali
jika kami belum paham tolong dengan sabar ulangi lagi tiga kali. Karena kami
hanya manusia bisa bukan robot.
Sekolah itu untuk belajar,
dapat nilai jelek ya wajar.
Lah ini mendapat nilai jelek
berasa mendapatkan sebuah bala.
Katanya”lebih baik mendapat
nilai jelek hasil sendiri ketimbang nilai bagus hasil orang lain.
Setidaknya
kita tau dimana sih tingkat kepahaman kita, usai ulangan kita jadi tau oh
materi ini yang gue belum kuasai, oh cara ngitung ini yang gue lupa. dll”
Tapi
terkadang sekolah dan guru lupa akan hal itu.
Saya hanya bisa terus berdoa dan berharap semoga kelak ada guru yang sangat peduli
dengan muridnya bukan dengan nilainya.
Dan
tentu saja semoga fungsi sekolah tidak menyeleweng, yang tadinya membuat anak
bangsa cerdas bukan mendapatkan nilai bagus.
Harusnya
nilai itu tidak jadi prioritas, tapi lebih mengedepankan kualitas pelajar itu
sendiri. Sukses itu bukan ketika kita mendapatkan nilai bagus, tapi ketika kita
sadar akan kekurangan kita dan berusaha memperbaiki dan kemudian menjadi pribadi
yang lebih baik lagi.
Sebelumnya
mohon mahaf jika ada salah kata, atau ada pihak yang kurang berkenan karena ini
tulisan hanya argumen semata.

0 komentar:
Posting Komentar